Berita

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal/RMOL

Politik

Pengamat: Said Iqbal Kurang Tepat Jadi Penasihat Presiden

SENIN, 08 JUNI 2026 | 10:21 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Rencana Presiden Prabowo Subianto menunjuk Presiden Partai Buruh Said Iqbal sebagai penasihat presiden dinilai perlu dipertimbangkan secara matang. Penilaian itu disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.

Menurut Jamiluddin, bertambahnya jumlah penasihat presiden bukan menjadi persoalan selama figur yang ditunjuk memiliki kapasitas, pengalaman, dan kebijaksanaan dalam melihat berbagai persoalan bangsa secara menyeluruh.

"Kalau itu benar, penasihat presiden tentu bertambah banyak. Hal itu tentu tidak menjadi masalah bila penasihat yang ditunjuk punya kapasitas yang mumpuni dan bijak dalam melihat persoalan," kata Jamiluddin kepada wartawan di Jakarta, Senin 8 Juni 2026. 


Jamiluddin mengakui Said Iqbal memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan isu ketenagakerjaan. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal penting untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait kebijakan yang menyangkut kepentingan pekerja.

"Said Iqbal tentu layak bila menjadi penasihat presiden di bidang ketenagakerjaan. Sebab, pengalamannya memimpin asosiasi buruh sangat berguna bagi presiden untuk melahirkan kebijakan yang berpihak kepada pekerja," ujarnya.

Namun, Jamiluddin menilai Said Iqbal selama ini cenderung melihat persoalan ketenagakerjaan dari perspektif pekerja semata dan kurang memperhatikan kepentingan pelaku usaha sebagai bagian dari ekosistem ketenagakerjaan.

"Hanya saja, Said Iqbal bukanlah sosok yang bijak dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. Said Iqbal kerap melihat persoalan ketenagakerjaan lebih parsial, dari sisi tenaga kerja saja. Ia kerap abai melihat dari sisi pengusaha," tegasnya.

Menurut Jamiluddin, seorang penasihat presiden seharusnya mampu memandang setiap persoalan secara utuh dan komprehensif. Dengan demikian, berbagai masalah dapat dipetakan secara lebih objektif sehingga solusi yang dirumuskan mampu mengakomodasi kepentingan seluruh pihak.

"Sebagai penasihat presiden idealnya melihat persoalan ketenagakerjaan secara komprehensif. Dengan begitu, permasalahan ketenagakerjaan dapat dipetakan dengan baik sehingga solusi yang diambil tepat sasaran," katanya.

Atas dasar itu, Jamiluddin berpandangan bahwa pengalaman di bidang tertentu saja belum cukup untuk menduduki posisi penasihat presiden. Jabatan tersebut membutuhkan sosok yang mampu melihat persoalan secara luas, objektif, dan bijaksana.

"Untuk menjadi penasihat presiden tak cukup hanya mengandalkan pengalaman dalam bidang tertentu. Perlu sosok yang bijaksana dan melihat persoalan secara komprehensif. Hal ini kiranya yang kurang dimiliki Said Iqbal untuk menjadi penasihat presiden," pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya