Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Publika

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

SENIN, 08 JUNI 2026 | 02:59 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

PENUTUPAN perdagangan valuta asing pada Jumat, 5 Juni 2026, menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp18.036. Di saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada posisi 5.595.

Kinerja makroekonomi ini berada jauh di bawah asumsi makro APBN 2026 yang menargetkan rupiah di angka Rp 16.599 per dolar AS. Padahal, ekspektasi konsensus pasar untuk akhir tahun berada di level 7.200 menurut skenario moderat BRI dan Danareksa Sekuritas. Jarak yang melebar antara realisasi dan target ini memicu pertanyaan besar: bagaimana kondisi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek?
 
Harapan Politik vs Kenyataan Pasar


Di atas kertas, pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki fundamen politik yang sangat kuat. Dukungan legislatif yang mencapai lebih dari 80 persen memberikan jaminan stabilitas hingga 2029.

Hal ini diperkuat oleh hasil survei Poltracking Indonesia per 4 Juni 2026 yang mencatat tingkat kepuasan publik sebesar 72,2 persen dan kepercayaan publik 74,2 persen--senada dengan temuan Nusantara Riset Indonesia, Median, dan Indikator Politik Indonesia.

Namun, realitas politik domestik ini berbanding terbalik dengan sentimen pasar global. Tekanan geopolitik dunia dan kalkulasi investor bebas tidak bergerak simetris dengan kepuasan sosiologis di dalam negeri. 

Pasar global tampaknya memberikan respons dingin, tercermin dari tekanan bertubi-tubi pada Rupiah dan IHSG. Investor global saat ini terlihat lebih bersandar pada penilaian objektif lembaga rating internasional dibanding pernyataan normatif pemerintah:

1. Moody’s: Mempertahankan peringkat Indonesia pada Baa2, namun memangkas prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif akibat sorotan terhadap transparansi serta daya prediktabilitas kebijakan fiskal dan moneter.

2. Fitch Ratings: Menurunkan prospek ke negatif (peringkat BBB) karena menilai ketidakpastian kebijakan dapat memperlemah prospek fiskal jangka menengah, terutama terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan tata kelola investasi Danantara.

3. Morgan Stanley: Memberikan pandangan underweight terhadap alokasi investasi saham Indonesia akibat kecemasan atas rasio utang terhadap PDB yang berpotensi membebani APBN masa depan.

Rapuhnya sentimen ini memicu aliran modal keluar (capital outflow) secara masif. Imbasnya mulai dirasakan masyarakat di sektor riil. Upaya menahan subsidi BBM memicu antrean panjang armada logistik di berbagai SPBU, sementara harga kebutuhan pokok merangkak naik dan pasokan minyak goreng subsidi di lapangan kian terbatas.
 
Ujian Konsistensi Kebijakan

Menghadapi dinamika global ini, pemerintah merespons dengan kebijakan yang defensif guna mempertahankan stabilitas ekonomi makro. Namun, sikap bersikukuh ini menuntut pengorbanan besar dari pelaku ekonomi, konsumen domestik, hingga BUMN yang bergantung pada bahan baku impor.

Mengharapkan adanya reformasi struktural total yang drastis seperti masa transisi 1998 tampaknya bukan menjadi pilihan utama pemerintah saat ini. Kabinet saat ini memilih bertahan dengan arah kebijakan yang sudah digariskan. 

Pada akhirnya, waktu yang akan menguji apakah benteng fundamental perekonomian Indonesia benar-benar tangguh menahan ombak ketidakpastian global, atau justru memerlukan evaluasi mendasar demi kesejahteraan publik.


*Penulis adalah peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan pengajar Universitas Mercu Buana.


Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya