Berita

Anggota Komisi II DPR, Azis Subekti. (Foto: istimewa)

Publika

Ketika Pasar Menilai, Rakyat Menentukan

MINGGU, 31 MEI 2026 | 12:31 WIB

DALAM beberapa pekan terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi dua perdebatan yang sekilas tampak berbeda, tetapi sesungguhnya saling terhubung.

Perdebatan pertama menyangkut nilai tukar rupiah yang bergerak mendekati Rp17.800 per dolar Amerika Serikat. Perdebatan kedua muncul setelah Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen pada Triwulan I 2026.

Dari dua angka itu lahirlah beragam kesimpulan. Ada yang melihat Indonesia sedang menuju tekanan ekonomi yang serius. Ada yang menilai pertumbuhan ekonomi hari ini hanya bertumpu pada belanja negara. Bahkan tidak sedikit yang menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia sesungguhnya sedang kehilangan tenaga dari masyarakat dan dunia usaha.


Kritik seperti itu tentu sah. Demokrasi membutuhkan ruang bagi perbedaan pandangan. Namun persoalan muncul ketika angka dibaca secara terpisah dari konteksnya. Ketika statistik diperlakukan seperti vonis, bukan sebagai pintu masuk untuk memahami kenyataan yang lebih utuh.

Di sinilah ekonomi sering kali kehilangan kejernihannya. Karena ekonomi bukan sekadar soal angka yang tumbuh paling cepat. Ekonomi adalah soal memahami siapa yang sesungguhnya memberikan tenaga terbesar bagi pergerakan sebuah bangsa.

Konsumsi pemerintah memang tumbuh sangat tinggi pada awal tahun ini. Namun pertumbuhan yang tinggi tidak otomatis berarti kontribusinya paling besar.

Dalam struktur Produk Domestik Bruto Indonesia, konsumsi pemerintah hanya berada di kisaran 6,7 persen. Sementara konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 54 persen dari keseluruhan aktivitas ekonomi nasional.

Perbedaan ini sangat penting dipahami. Sebuah komponen dapat tumbuh paling cepat, tetapi belum tentu menjadi penopang utama ekonomi.

Ibarat sebuah kendaraan, suara bagian mesin yang paling keras belum tentu berasal dari komponen yang menghasilkan tenaga terbesar.

Karena itu, ketika publik menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia sedang “ditopang negara”, sesungguhnya ada bagian penting yang luput dilihat.

Dengan pendekatan source of growth yang digunakan BPS, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sekitar 2,94 poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Investasi memberikan kontribusi sekitar 1,79 poin. Sedangkan konsumsi pemerintah berada di sekitar 1,26 poin.

Angka-angka tersebut menyampaikan pesan yang sederhana namun penting:

Ekonomi Indonesia tidak berdiri di atas satu kaki. Ia bergerak karena kombinasi antara aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan kebijakan negara.

Justru di situlah letak kekuatan Indonesia yang sering kali kurang dihargai.

Sejak lama Indonesia bukan negara yang hidup terutama dari ekspor seperti Singapura, Korea Selatan, atau Taiwan. Indonesia juga bukan ekonomi yang bertumpu pada pasar keuangan sebagaimana banyak negara maju.

Kekuatan terbesar Indonesia berada pada pasar domestiknya sendiri. Pada jutaan transaksi yang terjadi setiap hari. Pada pedagang yang membuka kios sejak subuh. 

Pada petani yang menanam meski musim tidak selalu ramah.

Pada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit.

Pada pekerja yang berangkat ke kantor.

Pada UMKM yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Pada keluarga yang membeli kebutuhan sehari-hari.

Pada jutaan orang yang mungkin tidak pernah muncul dalam statistik utama, tetapi sesungguhnya menjadi jantung kehidupan ekonomi nasional.

Karena itulah ketika mobilitas meningkat, perdagangan kembali ramai, perjalanan selama Idulfitri bertambah, pusat-pusat ekonomi lokal bergerak, restoran penuh, pasar tradisional hidup, dan UMKM kembali berproduksi, sesungguhnya kita sedang menyaksikan mesin utama ekonomi Indonesia bekerja.

Ini bukan sekadar cerita tentang konsumsi. Ini adalah cerita tentang kepercayaan.

Tentang keyakinan jutaan orang bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.

Namun di saat yang sama, optimisme domestik tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap dunia luar. Karena dunia modern telah berubah.

Pasar keuangan global hari ini mampu mempengaruhi ruang gerak negara dengan cara yang tidak pernah terjadi pada masa lalu.

Nilai tukar rupiah, arus modal, pasar obligasi, suku bunga global, harga energi, dan sentimen investor saling terhubung dalam jaringan yang sangat kompleks.

Ketika investor global merasa risiko meningkat, modal dapat keluar dari negara berkembang. Rupiah melemah. Yield obligasi naik. Biaya pembiayaan meningkat. Ruang fiskal menyempit.

Di titik itulah pasar sedang memberikan penilaian. Bukan penilaian terhadap satu kebijakan. Melainkan terhadap kemampuan sebuah negara menjaga arah. Karena pasar modern sesungguhnya tidak hanya membaca angka.

Ia membaca disiplin.

Ia membaca konsistensi.

Ia membaca kredibilitas.

Dan sering kali, ia membaca masa depan sebelum masa depan itu benar-benar tiba.

Di sinilah tugas negara menjadi semakin berat.

Negara harus cukup kuat untuk menjaga kepercayaan pasar, tetapi pada saat yang sama tidak boleh kehilangan hubungan dengan denyut kehidupan rakyat.

Sebab pasar dan rakyat sesungguhnya menjalankan fungsi yang berbeda.

Pasar menyediakan likuiditas.

Rakyat menyediakan daya tahan.

Pasar menyediakan modal.

Rakyat menyediakan permintaan.

Pasar memberikan sinyal.

Rakyat memberikan kehidupan.

Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan sebuah negara adalah memilih salah satu dan mengabaikan yang lain.

Negara yang hanya mengejar penilaian pasar dapat kehilangan legitimasi sosialnya.

Sebaliknya, negara yang mengabaikan disiplin ekonomi dan hanya mengandalkan optimisme domestik akan menghadapi tekanan yang sama beratnya.

Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar menjaga rupiah tetap stabil atau mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen.

Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan bahwa kekuatan pasar domestik terus tumbuh melalui peningkatan produktivitas rakyat.

UMKM harus naik kelas. Koperasi harus menjadi institusi ekonomi modern. Petani harus memperoleh akses teknologi dan pembiayaan yang lebih baik. Nelayan harus terhubung dengan rantai pasok yang lebih efisien. Industri harus semakin bernilai tambah. Hilirisasi harus menghasilkan pekerjaan dan devisa. Investasi harus menciptakan kapasitas produksi baru, bukan sekadar perpindahan aset.
Dan negara harus terus menemukan inovasi baru agar denyut ekonomi di akar rumput tidak pernah kehilangan tenaga.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak negara memiliki pasar keuangan yang besar tetapi rapuh ketika krisis datang.

Indonesia memiliki sesuatu yang tidak mudah dimiliki negara lain: pasar domestik yang luas, masyarakat yang adaptif, dan ekonomi rakyat yang berulang kali terbukti menjadi bantalan ketika dunia kehilangan keseimbangannya.
Karena itu, ketika pasar memberikan penilaian, Indonesia harus mendengarkannya dengan cermat.

Tetapi ketika menentukan arah masa depan, jangan pernah lupa siapa yang selama ini menjaga roda ekonomi tetap berputar. Bukan layar perdagangan di pusat-pusat keuangan dunia.

Melainkan jutaan rakyat yang setiap pagi membuka toko, mengolah sawah, menjalankan usaha, bekerja, berproduksi, dan percaya bahwa masa depan bangsa ini masih layak untuk diperjuangkan.

Karena pada akhirnya, pasar memang menilai.

Tetapi rakyatlah yang menentukan.

Azis Subekti 

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya