Berita

Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), Khalilur R Abdullah Sahlawiy. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

MBG Pasti Meroket jika Tanpa Copet

KAMIS, 28 MEI 2026 | 18:25 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini menghadapi ancaman serius di tingkat akar rumput.

Mulai dari pengelolaan dapur yang asal-asalan, kasus keracunan massal, menu tak standar, hingga indikasi sunat anggaran dinilai berpotensi merusak cita-cita mulia kepala negara.

Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur menegaskan, MBG seharusnya menjadi potret kehadiran dan kasih sayang negara kepada anak-anak Indonesia, khususnya dari keluarga miskin.


Namun, kehadiran para pemburu rente justru berisiko mengubah program ini menjadi beban moral dan politik bagi Presiden.

"MBG ini program sangat mulia. Saya pendukung MBG. Tetapi MBG akan rusak kalau ada copet di tengah jalan," tegas Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis, 28 Mei 2026.

Gus Lilur mengingatkan semua pihak agar tidak bermain-main dengan hak makanan anak miskin. Ia mengutip Al Quran Surat Al-Insan ayat 8 yang memerintahkan umat manusia untuk memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.

Menurutnya, siapa pun yang nekat mengurangi jatah makan anak-anak dalam program MBG telah melakukan pelanggaran moral yang amat serius.

“Al Quran menyebut makanan yang disukai, digemari. Bukan makanan yang dipotong anggarannya. Bagi saya, mencopet dana MBG jelas melanggar Al Quran. Dan melanggar Al Quran bagi saya adalah melanggar prinsip,” cetusnya.

Lebih lanjut, Gus Lilur menyoroti rentetan kasus keracunan MBG di sejumlah daerah. Baginya, fenomena anak-anak yang mengalami mual hingga harus dilarikan ke rumah sakit bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan bukti rapuhnya standarisasi dapur dan higiene sanitasi.

"Presiden punya niat besar memberi makan anak-anak bangsa. Tetapi di bawah, kalau dapurnya asal-asalan, menunya asal jadi, dan ada oknum yang bermain fee, maka cita-cita Presiden akan dirusak oleh para pemburu untung," sesalnya.

NBI juga menguliti struktur bisnis di sekeliling program MBG, terutama terkait posisi mitra dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Berdasarkan data yang dihimpun NBI, investasi pembangunan dapur oleh pihak ketiga berkisar antara Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar, yang kemudian disewakan ke Badan Gizi Nasional (BGN) sekitar Rp6 juta per hari kerja.

Ketergantungan pada pihak ketiga ini dinilai menciptakan celah bisnis yang berpotensi memicu kemunculan pemburu rente di luar sistem resmi. Kondisi ini kian diperparah oleh laporan lapangan terkait adanya dugaan praktik permintaan fee per porsi oleh oknum tertentu, dengan nilai berkisar Rp500 hingga Rp3.000 per porsi.

Padahal, publik mengetahui alokasi per porsi MBG diplot sebesar Rp15.000, dengan rincian Rp5.000 untuk operasional SPPG dan Rp10.000 bersih untuk nilai makanan.

“Kalau dari Rp10.000 masih diminta fee Rp500 sampai Rp3.000, maka anak-anak hanya makan dari nilai sisa, ada yang tinggal Rp7.000. Inilah yang saya sebut copet anggaran MBG. Dan ini harus dihentikan total!” bongkar Gus Lilur.

Sebagai solusi konkret, Tokoh Muda Nahdliyin ini mendesak pemerintah untuk memangkas ketergantungan pada pihak ketiga yang berorientasi profit. Idealnya, negara melalui BGN harus membangun dan mengelola SPPG secara mandiri.

Selain itu, ia mengusulkan agar model pengelolaan SPPG didekatkan langsung ke lingkungan sekolah dengan membangun dapur dan kantin sekolah. Langkah ini diyakini akan memperpendek rantai kendali serta mempermudah pengawasan oleh kepala sekolah, guru, komite, hingga wali murid.

Sebagai langkah awal, Gus Lilur menyarankan pemerintah melakukan pilot project nasional dengan menerapkan model pengelolaan berbasis dapur sekolah ini di satu kabupaten/kota pada setiap provinsi.

“MBG pasti meroket jika tanpa copet. MBG pasti dicintai rakyat jika tidak dijadikan proyek bancakan. Jangan biarkan makanan anak miskin menjadi ladang rente,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya