Berita

Ilustrasi keadilan dan demokrasi. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Sinyal Redup Demokrasi

RABU, 27 MEI 2026 | 18:57 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MELEMAH! Berdasarkan The Economist (5/2026) disebut arah kebijakan terlalu ekspansif secara fiskal, memperlemah institusi pengawas, dan mempercepat erosi demokrasi. Tentu perlu pemaknaan dalam membaca situasi tersebut.
 
Dari meja kekuasaan, dinyatakan bahwa suara asing menciptakan ketakutan. Lebih jauh lagi, hal tersebut membentuk ketidakberanian pengambilan keputusan. Jelas dibutuhkan kesadaran esensial, untuk melihat kritik dari ambisi menggebu.
 
Sebagian pengamat dan akademisi, menyebut sedang terjadi pergeseran arah kepemimpinan berbasis penguatan institusi (rules-based), menuju pada personalisasi kekuasaan yang berpusat pada elite eksekutif, merujuk model ekstraktif dalam konsentrasi segelintir pihak.
 

 
Konsep negara hukum (Rechtsstaat) sebagaimana tafsir Friedrich Julius Stahl, untuk membatasi kekuasaan penguasa demi melindungi hak-hak dasar warga, belum utuh terjadi. Sejatinya, hukum, diletakkan sebagai pembatas mutlak agar tidak terjadi kesewenang-wenangan.
 
Sementara, dalam sosiologi politik lokal, justru menunjukkan deviasi yang mencemaskan. Terbentuk gejala legalisme autokratik (autocratic legalism), ketika aturan main formal dipatuhi secara prosedural, tetapi substansi keadilan dikebiri untuk kepentingan politik praktis.
 
Pada akhirnya, yang tersisa hanya demokrasi prosedural, dimana publik menjadi basis administratif non-substantif. Pemilu dilaksanakan sebagai ritual formal, tetapi dikerdilkan. Publik di-fait accompli elite kartel politik, sementara ruang bagi oposisi dipersempit.
 
Selain itu, terdapat semacam gejala executive aggrandizement, atau pelemahan sistematis terhadap lembaga pengawas, kondisi ini berjalan mulus karena parlemen telah dikooptasi ke dalam koalisi raksasa yang besar.
 
Di tengah iklim pencitraan politik, klaim kesuksesan pembangunan seperti penurunan kemiskinan atau inflasi menjadi sangat bergantung pada data statistik. Tampak objektivitas data dirusak demi memoles citra, boleh jadi arah perencanaan pembangunan akan tersesat.
 
Terlebih, ketika pembuat kebijakan dijangkiti reverse planning. Situasi saat pemerintah, kerap melemparkan kebijakan populis berskala besar ke publik, tanpa didahului naskah akademik, analisis dampak (regulatory impact assessment), maupun uji coba (piloting).
 
Konsekuensinya, birokrasi dipaksa bekerja mundur dan terburu-buru guna melegitimasi kepentingan politik. Hal ini, dapat berujung pada tumpang tindih regulasi dan ketidakpastian hukum yang merusak kepercayaan dunia usaha.
 
Mengatasi Persoalan

Catatan penting yang bersifat mendalam, adalah pentingnya kekuasaan untuk memiliki kejujuran, dan kemauan untuk bersikap terbuka serta transparan. Telah lama, pengamat menyebut bila terjadi pengabaian suara publik, bahkan seolah anti kritik.
 
Ketika suara serupa dilontarkan The Economist, respons dari panggung internasional tersebut mendadak sangat sensitif, defensif, bahkan reaktif. Terbilang, antek dengan agenda asing.
 
Sulit membayangkan konsep teori konspirasi, melainkan patut menempatkan kritik sebagai alarm peringatan. Situasi di masa depan sulit dipastikan, maka ruang yang ada untuk melakukan perbaikan juga semakin terbatas dan menyempit.
 
Perlu diingat, keberhasilan untuk keluar dari situasi krisis di masa lalu dicapai bukan hanya karena kebijakan teknis, melainkan pada kemampuan membangun kepercayaan publik (restoring trust), melalui penghormatan tulus atas aturan main demokrasi dan otonomi hukum.
 
Pola personalisasi kekuasaan, perlu dikembalikan menjadi marwah kepemimpinan institusional. Mengedepankan kebijakan berbasis bukti ilmiah (evidence-based policy) adalah harga yang tidak bisa ditawar, jika ingin keluar dari krisis multidimensi.

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya