Berita

BEM Kristiani desak pemerintah segera stabilkan harga TBS Sawit dan lindungi petani (Foto: Istimewa)

Bisnis

BEM Kristiani: Petani Sawit Jangan Jadi Korban Kebijakan Ekspor

RABU, 27 MEI 2026 | 08:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

BEM Kristiani Seluruh Indonesia mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang anjlok dalam beberapa waktu terakhir dan dinilai merugikan petani.

Korpus BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Charles, mengatakan wacana kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN telah memicu ketidakpastian pasar dan kepanikan di industri sawit. Akibatnya, harga TBS di sejumlah daerah turun drastis dari kisaran Rp3.400–Rp3.530 per kilogram menjadi sekitar Rp1.500–Rp2.500 per kilogram.

Menurut Charles, kondisi tersebut sangat memberatkan petani kecil di tengah tingginya harga pupuk, biaya perawatan kebun, transportasi, dan operasional lainnya.


“Harga pupuk masih tinggi, biaya pemeliharaan kebun terus naik, tetapi hasil penjualan sawit justru anjlok drastis. Ini jelas tidak seimbang dan sangat menyulitkan petani sawit di daerah,” tegas Charles.

Ia mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan situasi berlarut-larut karena berpotensi memicu persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Kami mengingatkan pemerintah agar jangan menunggu kemarahan petani meledak. Ketika petani sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya produksi, maka ini dapat menjadi persoalan sosial nasional,” lanjutnya.

BEM Kristiani Seluruh Indonesia menilai jika mekanisme ekspor melalui BUMN tetap diterapkan, pemerintah harus hadir sebagai pengawas utama untuk menjaga stabilitas harga TBS dan mencegah praktik permainan harga.

Selain itu, organisasi tersebut juga meminta pemerintah menetapkan harga dasar TBS nasional yang mengacu pada harga CPO internasional, membentuk tim pengawas independen, mempercepat pembayaran kepada pabrik dan petani, memberikan subsidi pupuk, memperkuat hilirisasi sawit, serta membuka dialog nasional bersama petani sebelum kebijakan ekspor satu pintu diterapkan penuh.

“Kami mendukung kebijakan negara yang bertujuan memperkuat tata kelola ekspor nasional. Namun negara juga wajib memastikan petani tidak menjadi korban dari kebijakan tersebut,” tutup Charles.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya