Berita

Kolase Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Gatot Nurmantyo Berharap Presiden Keluarkan Dekrit Sesuai Amanat AD/ART Gerindra

RABU, 27 MEI 2026 | 02:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Gerakan kembali ke UUD 1945 naskah asli yang semakin masif saat ini guna menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia mendapat perhatian dari Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo.

Mantan Panglima TNI itu sangat yakin dan sepakat terhadap gagasan kembali kepada UUD 1945 yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945.

Ia pun mengutarakan tataran strategis, taktis hingga cara untuk kembali kepada UUD 1945 naskah asli.    


“Saya mau tanya, kita mau kembali itu pakai apa? Pakai Whoosh atau pakai apa? Kan itu permasalahannya. Tapi, kita punya harapan. Kenapa punya harapan? Karena presidennya sekarang adalah Presiden Prabowo,” ujar Gatot dikutip dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Selasa malam, 26 Mei 2026.  

Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo yang juga menjadi Ketua Umum Partai Gerindra memiliki komitmen dan tujuan untuk kembali ke UUD 1945 naskah asli. Hal itu sebagaimana tertuang dalam pasal 10 dan 11 AD/ART Gerindra.

“Dalam AD/ART Partai Gerindra, salah satu tujuan partainya adalah kembali ke UUD 45 yang asli dan murni. Tentunya dengan kondisi seperti ini kita semua berharap adanya dekrit presiden. Logika berpikirnya begitu bagi saya,” jelasnya.

Dalam pasal 10 ayat 1 AD/ART Gerindra tertulis “Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945”.

Kemudian dalam pasal 11 ayat 1 tertulis “Mempertahankan dan mengamalkan Pancasila serta menegakkan Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, secara murni dan konsekuen”.

Kedua pasal itu dengan jelas menyatakan adanya frasa “UUD 1945 yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945” yang bisa dimaknakan sebagai konstitusi naskah asli.  
 
Namun Gatot menyebut untuk presiden mengeluarkan dekrit saat ini sulit karena tidak ada peraturan yang mengatur soal itu.

“Tetapi, setelah melihat dalam undang-undang yang setelah diamandemen, tidak ada satu pasal pun tentang kepala negara atau presiden untuk melakukan dekrit presiden. Akibat fatal kalimat presiden penyelenggara negara tertinggi, hilang. Jadi, betapa luar biasanya, mereka yang merusak ini (UUD 1945) dengan benar-benar teliti, bahkan di kunci semuanya sekarang ini dengan Mahkamah Konstitusi,” tandasnya.

Ia pun memberikan syarat bahwa jika presiden ingin melakukan dekrit maka harus mendapat dukungan yang kuat dari seluruh elemen bangsa.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya