Berita

Petugas memberikan kotak makan MBG di sebuah seolah di Jakarta Selatan (Foto: RMOL/Reni Erina)

Nusantara

Pemerintah Disarankan Dahulukan Kelompok Rentan untuk MBG

SABTU, 23 MEI 2026 | 09:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai sorotan dan dinamika di tengah masyarakat. 

Meski dihujani kritik di media sosial, para ahli menilai program ini memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, dengan syarat tata kelolanya harus dibenahi secara total.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Cecep Darmawan. Ia optimistis program MBG mampu membawa transformasi besar jika dijalankan dengan manajerial yang transparan, tepat sasaran, dan didukung ekosistem pendidikan yang holistik.


“Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart,” ujar Prof. Cecep, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 23 Mei 2026. 

Menanggapi tajamnya sorotan publik di media sosial terkait implementasi lapangan, Prof. Cecep menilai hal tersebut sebagai bentuk kontrol sosial yang wajar. Namun, ia meminta pemerintah untuk memisahkan antara esensi visi program dengan kendala teknis manajerial.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” tegasnya.

Untuk mengimbangi narasi negatif, ia juga mendorong pemerintah menyebarluaskan praktik baik (best practices) dari sekolah-sekolah dan dapur Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) yang sudah berhasil menjalankan program ini dengan optimal sebagai percontohan.

Secara blak-blakan, Prof. Cecep memberikan solusi konkret bagi pemerintah, terutama dalam menyiasati keterbatasan anggaran di awal masa implementasi. Dibanding memaksakan skala luas yang belum siap, ia menyarankan skema prioritas bertahap.

Fokus Kelompok Rentan: Jika anggaran masih terbatas, program sebaiknya diprioritaskan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu dan anak jalanan di seluruh Indonesia.

Perluasan Bertahap:  Sasaran program bisa diperluas secara bertahap seiring dengan semakin sehatnya kondisi keuangan negara.

Di akhir penjelasannya, Prof. Cecep mengingatkan bahwa intervensi gizi ini tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya obat dewa untuk mengatasi kompleksitas masalah sosial. 

Agar dampaknya optimal, ada dua aspek strategis yang wajib dipenuhi pemerintah. Pertama, kerja kolaboratif multisektor, yaitu harus ada sinergi kuat antara Badan Gizi Nasional (BGN), kementerian terkait, pemerintah daerah, komite sekolah, hingga lingkungan keluarga.

Kedua, penguatan ekonomi keluarga, pemerintah tetap harus memperkuat sektor ekonomi makro dan membuka lapangan kerja. Tujuannya agar orang tua memiliki kemampuan finansial yang mandiri untuk melanjutkan estafet pemenuhan gizi anak saat berada di rumah.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Kembali Bongkar Peran Dirjen Bea Cukai dalam Skandal Suap Blueray Cargo

Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:46

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya