Berita

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menerima plakat usai menjadi Narasumber di acara 50th IPA Convex Day 2 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Kamis (21/5/2026). (Foto: Dok. Pertamina)

Bisnis

Belajar dari Jepang, Pertamina Minta Pemerintah Bikin Arsitektur Dukungan Energi yang Kuat

JUMAT, 22 MEI 2026 | 14:34 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa proyek energi strategis nasional tidak bisa hanya dibebankan kepada korporasi semata. Perlu ada arsitektur dukungan yang kuat dan nyata dari negara agar ketahanan energi jangka panjang bisa terwujud.

Hal itu disuarakan langsung oleh Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, dalam diskusi panel IPA Convex ke-50 bertema Global Challenges: NOCs at the Heart of Energy Resilience di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.

Oki mencontohkan kesuksesan pengembangan proyek LNG Mozambik yang disokong habis-habisan oleh Pemerintah Jepang melalui berbagai instrumen negaranya.


Di proyek tersebut, Tokyo tidak cuma memberi restu kebijakan. Mereka ikut memperkuat keekonomian proyek lewat modal equity JOGMEC, kucuran pembiayaan JBIC, asuransi dari NEXI, hingga jaminan pasar pembeli (offtaker) jangka panjang lewat raksasa JERA.

“Contoh global menunjukkan bahwa proyek energi strategis membutuhkan arsitektur dukungan yang kuat," tegas Oki Muraza.

Menurut Oki, pemerintah bisa masuk dan berperan aktif melalui instrumen pembiayaan, asuransi, kepastian pasar, hingga regulasi yang membuat proyek menjadi bankable (layak didanai bank).

"Dengan begitu, National Oil Company (NOC) seperti Pertamina dapat menjalankan mandat ketahanan energi secara lebih efektif, tetapi tetap menjaga disiplin investasi,” lanjutnya.

Oki menambahkan, sebagai BUMN, Pertamina mengemban mandat ganda: mencetak keuntungan untuk penerimaan negara sekaligus menjaga perut energi rakyat tetap aman. Salah satu kunci yang didorong saat ini adalah hilirisasi gas bumi.

Lewat hilirisasi gas, negara tidak hanya mendapatkan energi transisi yang lebih murah dan rendah emisi, tetapi juga menciptakan efek berantai (multiplier effect) yang luas, mulai dari membuka lapangan kerja baru hingga memaksimalkan nilai tambah komoditas lokal.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Rechta Institute: Muktamar NU Bersih Dari Politik Uang dan Balas Budi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:16

Ucapan Budi Arie Soal Percepatan Pemilu 2029 Tak Bisa Dimaafkan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:02

Nasaruddin Umar Pilih Jadi Menag Ketimbang Maju Ketum PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:01

PLN Siap Serap Listrik dari PSEL Bekasi, Capai 223.584 MWh per Tahun

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:51

Muktamar NU Turut Bahas RUU Perampasan Aset

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:40

Polisi Sebut Kelompok Perusuh Rusak Fasilitas Umum Usai Demo di Gedung DPR/MPR

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:34

Polda Metro Pastikan Aktivitas Warga Tetap Berjalan Pascademonstrasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:26

PLTS 100 GWp Diluncurkan, PLN Siap Percepat Swasembada Energi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:11

Emas Antam Turun Lagi, Termurah Rp1,4 Juta

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:57

Legislator Aceh soal Blok Andaman: Rujukannya Harus Pasal 33 UUD 1945

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:40

Selengkapnya