Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres)

Politik

Ekonomi Bisa Membaik jika Resep Prabowo Dieksekusi dengan Tepat

KAMIS, 21 MEI 2026 | 11:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Pengantar dan Keterangan Pemerintah atas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027 tidak bisa dilihat secara hitam putih, apakah menenangkan rakyat atau justru memunculkan kekhawatiran baru.

Menurut Pengamat politik dari Politika Research & Consulting, Nurul Fatta, respons masyarakat terhadap pidato Presiden sangat bergantung pada latar sosial dan kondisi ekonomi masing-masing kelompok masyarakat.

“Masyarakat kita yang di kampung, yang akses terhadap informasi minim, atau walaupun akses terhadap informasi sudah memadai seperti media sosial belum tentu mereka reaktif terhadap pidato presiden. Mereka justru tidak mau tahu, lebih sibuk kerja,” ujarnya kepada RMOL, Kamis, 21 Mei 2026.


Ia mengatakan masyarakat bawah umumnya baru bereaksi jika kebijakan pemerintah berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

“Kecuali kebijakan presiden berdampak drastis di kemudian hari, misal harga beras 2-3 kali lipat, harga LPG melambung, BBM dinaikkan, mereka baru teriak,” katanya.

Sementara itu, menurut dia, kelompok masyarakat perkotaan dan pelaku usaha cenderung lebih sensitif terhadap situasi ekonomi dan arah kebijakan pemerintah.

“Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang sudah mulai terdampak dengan kebijakan pemerintah hari ini, atau mereka yang punya bisnis dan lain-lain, mereka akan lebih khawatir,” lanjutnya.

Meski demikian, Nurul Fata menilai tingkat kekhawatiran publik tetap harus diukur secara objektif melalui survei.

“Tapi untuk mengukur kekhawatiran masyarakat saya cuma percaya satu instrumen, ya dengan survei,” ujarnya.

Ia juga menolak pandangan yang hanya menilai pidato Prabowo secara positif atau negatif semata karena realitas persoalan ekonomi Indonesia jauh lebih kompleks.

“Tapi saya menolak dikotomi soal positif atau negatif tidaknya menilai pidato tersebut. Sebab realitanya lebih kompleks,” katanya.

Menurutnya, Prabowo telah menyampaikan diagnosis yang cukup tepat mengenai berbagai persoalan ekonomi nasional seperti praktik under-invoicing, kebocoran devisa, hingga ketimpangan ekonomi.

“Tapi obat yang diresepkan saat ini dari diagnosis yang dilakukan, belum terbukti aman dan efektif ya kan,” katanya.

Dia menilai Indonesia saat ini berada dalam fase kritis yang dapat menjadi titik balik sejarah jika kebijakan pemerintah dijalankan dengan benar, transparan, dan diawasi secara ketat.

“Kalau kebijakan-kebijakan ini dieksekusi dengan benar, dengan transparansi, dengan pengawasan yang kuat, justru itu akan menjadi titik balik sejarah yang sesungguhnya,” katanya.

Namun ia mengingatkan publik juga memiliki kekhawatiran terhadap lemahnya evaluasi pemerintah terhadap sejumlah program yang mendapat kritik masyarakat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karena itu, Nurul Fatta mengingatkan risiko besar jika kebijakan pemerintah hanya berhenti sebagai retorika politik atau justru memperkuat kelompok oligarki baru.

“Kita khawatir ini hanya retorika yang gagal dieksekusi, atau lebih buruk lagi, dieksekusi tapi justru memindahkan kekuasaan dari oligarki lama ke oligarki baru, maka rakyat Indonesia ini akan membayar harga yang sangat mahal,” pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya