Berita

Ilustrasi (Artifficial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas Ambrol ke Level Terendah

RABU, 20 MEI 2026 | 07:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas anjlok lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Selasa 19 Mei 2026, hingga menyentuh level terendah sejak akhir Maret lalu. 

Melemahnya harga logam kuning ini dipicu oleh keperkasaan indeks dolar AS (DXY) dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah US Treasury bertenor 10 tahun. Di pasar spot, harga emas jatuh 1,4 persen ke posisi 4.503,98 Dolar AS per ons, sementara emas berjangka AS untuk kontrak Juni ditutup melemah 1 persen di level 4.511,20 Dolar AS per ons.

Tarik-menarik sentimen di pasar komoditas saat ini bersumber dari lonjakan harga minyak mentah Brent yang memicu kekhawatiran inflasi energi global. 


Situasi tersebut memaksa pasar realistis bahwa bank sentral global, khususnya Federal Reserve, kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sepanjang tahun 2026, atau bahkan kembali menaikkannya di akhir tahun. 

Prospek suku bunga yang ketat ini menguntungkan dolar dan obligasi, namun menjadi beban berat bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Kendati prospek jangka pendek dipenuhi tantangan makroekonomis, para analis menilai tren jangka panjang emas masih relatif kuat, terutama jika bank-bank sentral kembali aktif memborong emas setelah tekanan inflasi energi mereda. 

Saat ini, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menanti rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed pada Rabu malam demi mendapatkan kompas arah suku bunga selanjutnya.

Koreksi tajam ini ternyata tidak hanya menimpa emas, tetapi juga menyeret logam mulia lainnya. 

Harga perak spot anjlok 4,1 persen ke posisi 74,53 Dolar AS per ons, disusul platinum yang merosot 2,2 persen, dan paladium yang ambles 4,2 persen. 

Meski demikian, untuk proyeksi jangka panjang di kuartal keempat 2026, JP Morgan optimistis harga platinum masih berpotensi melesat hingga 2.400 Dolar AS per ons dan paladium di kisaran 1.600 Dolar AS per ons.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya