Berita

Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah 32 tahun berkuasa pada 21 Mei 1998. (Foto: Istimewa)

Publika

Soeharto Berperan dalam Reformasi 98

RABU, 20 MEI 2026 | 06:17 WIB

REFORMASI 98 itu sebuah akumulasi. Bukan sesuatu yang direkayasa atau dibuat-buat. Ia muncul karena banyak faktor. 

Makanya, tidak ada tokoh reformasi yang sebenarnya. Semua berperan sekecil apa pun peran itu. Presiden ke-2 RI Soeharto pun sebetulnya juga berperan.

Maka, dengarkanlah kisah Ginanjar Kartasasmita di Podcast Gaspol Kompas.com, belum lama ini. 


Pak Ginanjar bercerita tentang kesaksiannya menjelang Soeharto memutuskan berhenti sebagai Presiden RI waktu itu. Dia sendiri memutuskan dengan legowo.

Pak Ginanjar yang diminta menyampaikan situasi sulit waktu tu, ditemani dua orang Menko lainnya, tak sanggup berkata apa-apa di depan Pak Harto. 

Malah, Pak Harto mengajak cerita yang lain yang tak ada kaitannya dengan situasi pada saat itu.

Dalam perkiraan Pak Ginanjar, Pak Harto sudah tahu apa yang akan disampaikannya. Tapi ia tak mau bercerita tentang situasi pada saat itu. 

Pak Harto memilih cerita yang lain dan tak apa pula yang berani memulai, hingga pertemuan itu bubar.

Setelah berada di luar, ketiga Menko itu baru saling berpandangan dan berkata, "kok kita tak ada yang berani bercerita ya," sambil tertawa. 

Betapa masih kuatnya kharisma Pak Harto pada waktu itu," kata Pak Ginanjar. Pak Harto sama sekali belum lemah.

Artinya, Reformasi 98 itu ada dan bisa berjalan karena peran Pak Harto juga. 

Kalau Pak Harto tak mau dan memaksakan diri, maka sejarah Indonesia mungkin tidak akan seperti saat ini. 

Keikhlasan Pak Harto itu juga harus dicatat, memilih jalan yang tak terlalu banyak memakan korban.

Banyak yang sujud syukur mendengar Pak Harto mundur, karena tak menyangka akan bersedia dan secepat itu. 

Agak terlambat keputusan Pak Harto, tapi masih tepat dalam rentang waktu terkendali. 

Pak Harto berhenti itu seperti bukan berita yang pernah ditulis dan menjadi kenyataan sebenarnya.

Jadi, begitulah Reformasi 98 sebuah peristiwa akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang sudah begitu panjang. 

Bukan peristiwa dadakan, yang sekali berteriak langsung terwujud. Tak setuju dengan Pemerintah langsung berteriak lantang: "jatuhkan Pemerintah!". Tak bisa begitu jugalah.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Polri Didorong Selidiki PKS yang Membeli TBS di Bawah Harga Resmi

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:23

Kapolri Ngaku Belum Baca Rinci UU Polri yang Baru Disahkan

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:17

Pemerintah Ungkap Alasan Kenaikan Batas Usia Pensiun Anggota Polri

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:14

Rel Pertama, Palang Terakhir

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:09

KPK Temukan Indikasi TPPU dalam Kasus Silmy Karim

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:02

Paripurna DPR Sahkan RUU Polri jadi UU

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:41

Dewan Kesejahteraan Buruh Batal Dibentuk, Ini Penjelasan Mensesneg

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:37

Ada Tiga Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:24

Pertanyakan Laporan Keuangan Danantara, FPHI Bersurat ke Presiden Prabowo

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:17

Emas Antam Merosot Rp10.000, Turun ke Level Rp2,73 Juta per Gram

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:58

Selengkapnya