Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Emas Tertekan-Perak Melompat Berkat Rumor Diplomasi

SELASA, 19 MEI 2026 | 07:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas anjlok ke level 4.550 Dolar AS per ons pada akhir perdagangan Senin 18 Mei 2026, menguji titik terendah sejak akhir Maret. 

Penurunan tajam komoditas safe haven utama ini dipicu oleh runtuhnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, yang kini justru berpotensi bersikap lebih agresif (hawkish) demi meredam lonjakan inflasi terbaru.

Tekanan inflasi global kian nyata setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Kebuntuan antara AS dan Iran yang berlanjut hingga akhir pekan, termasuk blokade jalur kapal komersial di Selat Hormuz, telah memicu kelangkaan minyak mentah dan bahan bakar olahan global. 


Dampaknya, harga energi melesat tajam mendekati rekor tertinggi baru, yang langsung berimbas pada lonjakan Indeks Harga Produsen (PPI) serta mendorong inflasi konsumen ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. 

Dalam situasi di mana imbal hasil obligasi pemerintah (yield) terus merangkak naik, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) memudar karena investor lebih memilih memarkir dana mereka pada instrumen pendapatan tetap.

Secara historis, pergerakan emas di level 4.550 Dolar AS mencerminkan pergeseran paradigma baru di pasar komoditas, di mana nilai emas telah naik berlipat ganda dibandingkan rata-rata pergerakan jangka panjangnya di kisaran 1.800 Dolar AS hingga 2.000 Dolar AS pada awal dekade 2020-an, didorong oleh devaluasi mata uang fiat dan akumulasi masif oleh bank-bank sentral dunia.

Kontras dengan emas, perak justru berhasil menghapus kerugian masif 12 persen dari minggu lalu dan melonjak ke level 78 Dolar AS per ons. Trading Ecominics melaporkan, pembalikan arah yang agresif ini dipicu oleh spekulasi pasar terkait peluang reda atau selesainya konflik di Timur Tengah. 

Meskipun Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendesak Iran untuk segera mengambil tindakan, beredar laporan yang belum dikonfirmasi di pasar mengenai potensi kesepakatan besar. 

AS dikabarkan siap mencabut sanksi minyak terhadap Teheran, dengan imbalan pembekuan program nuklir Iran dalam jangka panjang.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya