Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Bisnis

IHSG dan Rupiah Kompak Berdarah Hari Ini, Sinyal Pasar Cemas?

SENIN, 18 MEI 2026 | 21:32 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang perdagangan pada Senin, 18 Mei 2026 ini dinilai bukan sekadar dampak gejolak global.

Sebelumnya, IHSG ditutup merosot 1,85 persen ke level 6.599,24 pada sore ini. Indeks diketahui juga sempat anjlok lebih dari 4 persen dengan bergerak di rentang 6.398,79 hingga 6.631,28.

Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menilai tekanan terhadap pasar saham mulai berkaitan erat dengan pelemahan Rupiah, yang hari ini ikut tertekan 0,40 persen ke Rp17.668 per Dolar AS, penutupan terlemah sepanjang sejarah.


Keduanya melemah tepat di awal pekan, setelah Presiden Prabowo Subianto mengatakan pelemahan kurs tidak akan berpengaruh ke warga desa, karena tidak menggunakan Dolar.

Menurut Achmad, koreksi tajam IHSG yang terjadi bersamaan dengan melemahnya Rupiah menjadi sinyal bahwa pasar sedang cemas soal fiskal RI, komunikasi pemerintah, hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik. 

“Kombinasi jatuhnya indeks saham dan melemahnya Rupiah adalah sinyal bahwa pasar tidak hanya sedang merespons volatilitas global, tetapi juga sedang menguji kekuatan fondasi ekonomi domestik,” kata Achmad dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Ia menjelaskan, koreksi pasar sebenarnya hal yang lumrah. Namun situasi menjadi berbeda ketika penurunan IHSG terjadi beriringan dengan tekanan terhadap Rupiah, keluarnya dana asing, hingga munculnya sorotan dari lembaga pemeringkat internasional.

"Penurunan indeks berubah menjadi pesan politik ekonomi. Pesan itu sederhana: investor sedang mempertanyakan apakah arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini cukup kredibel, cukup disiplin, dan cukup meyakinkan," jelasnya.

Meski demikian, ia juga tidak menampik adanya kondisi global yang menjadi salah satu faktor dalam depresiasi tersebut. Namun, kata Achmad, faktor tersebut bukan yang utama.

"Ketika konflik geopolitik meningkat, harga energi naik, Dolar AS menguat, dan investor global beralih ke aset aman, hampir semua pasar berkembang akan terkena tekanan. Namun, tidak semua negara mengalami tekanan dengan kedalaman yang sama. Perbedaan itu ditentukan oleh kepercayaan terhadap kebijakan domestik,"sambungnya.

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang dalam fase yang sensitif dengan banyak agenda besar Prabowo yang menggunakan anggaran jumbo, seperti program makan bergizi gratis, subsidi energi, ketahanan pangan, pertahanan, hingga berbagai program prioritas lain yang membutuhkan ruang fiskal luas. 

"Agenda ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat pertumbuhan dan pemerataan. Namun di mata pasar, setiap agenda besar selalu diikuti pertanyaan dari mana uangnya, seberapa besar defisitnya, apakah utang akan naik, dan apakah disipilin fiskal tetap dijaga? karena pasar sangat sensitif terhadap ketidakjelasan pembiayaan," tegasnya.

Achmad menegaskan bahwa investor mulai cemas melihat belanja pemerintah yang besar, tetapi peta pembiayaan tidak cukup terang, prioritas terlalu melebar, hingga komunikasi kebijakan yang tidak konsisten.

Koreksi IHSG, lanjutnya, juga mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas moneter. Menurutnya, Rupiah yang terus melemah membuat beban impor energi, bahan baku, dan pembayaran utang valas menjadi lebih berat. 

"Pelemahan Rupiah bukan hanya angka di layar bank. Ia masuk ke struktur biaya perusahaan, harga pupuk, BBM, LPG, obat, alat produksi, hingga ekspektasi inflasi," tuturnya.

Dengan demikian, pelemahan IHSG, sambung Achmad, bukan semata akibat faktor global. 

"Faktor global adalah pemicu, tetapi faktor domestik adalah bahan bakarnya. Global memberi tekanan melalui Dolar kuat, risiko geopolitik, dan harga energi. Namun persepsi terhadap fiskal, Rupiah, independensi moneter, komunikasi pemerintah, dan tata kelola pasar menentukan seberapa dalam koreksi terjadi," tandasnya.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya