Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Bisnis

Purbaya Balas Kritik The Economist, Defisit Indonesia Jauh Lebih Aman dari Eropa

SENIN, 18 MEI 2026 | 14:33 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan respons tajam terhadap kritik majalah asal Inggris The Economist yang menyoroti program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, kondisi fiskal nasional tetap berada pada jalur disiplin karena pemerintah masih mampu menjaga defisit anggaran sesuai batas aman yang ditetapkan undang-undang.

“Kan (defisit) fiskal kita bisa dikendalikan di bawah 3 persen dari PDB. Tahun lalu bukan 2,9 persen lho, 2,8 persen dari PDB defisitnya. Jadi, nggak ada masalah,” tegas Purbaya, menepis anggapan bahwa belanja besar pemerintah otomatis menyeret Indonesia ke jurang krisis fiskal.


Ia kemudian membandingkan posisi Indonesia dengan banyak negara Eropa yang justru memiliki rasio utang dan defisit jauh lebih tinggi, namun tidak selalu ditempatkan dalam sorotan sekeras Indonesia. 

Karena itu, Purbaya menilai kritik The Economist cenderung tidak proporsional dan mengabaikan konteks global.

“Sekarang pun kita hitung defisitnya berapa. Jadi, kalau The Economist memandang kebijakan fiskal kita berantakan, mereka suruh liat deh kebijakan-kebijakan negara Eropa berapa defisitnya, utangnya berapa. Itu mendekati 100 persen semua lho dari PDB,” papar Purbaya.

Dengan rasio utang Indonesia yang masih berada di kisaran 40 persen terhadap produk domestik bruto, Purbaya optimistis fondasi fiskal nasional tetap jauh lebih sehat dibanding banyak ekonomi besar dunia. 

Menurutnya, ketahanan fiskal Indonesia justru layak diapresiasi, bukan diposisikan seolah berada di ambang kemunduran.

“Kita masih 40 persen (dari PDB). Kita masih bagus. Harusnya The Economist muji kita,” kata Menkeu RI.

The Economist dalam laporan panjang berjudul "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy" menyoroti arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara sekaligus menggerus kualitas demokrasi Indonesia.

Sorotan utama diarahkan pada dua program populis berskala besar, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa (Kopdes), yang disebut membutuhkan anggaran sangat besar dan berisiko menekan penerimaan negara di tengah perlambatan harga komoditas ekspor seperti batu bara, nikel, dan sawit.

The Economist menilai defisit fiskal Indonesia pada 2025 yang mendekati batas 3 persen dari PDB menjadi sinyal kewaspadaan, terutama karena belanja negara terus meningkat sementara tekanan subsidi energi dan pembayaran bunga utang ikut membesar. 

Media tersebut juga menyinggung potensi penurunan peringkat utang apabila disiplin fiskal melemah.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya