Berita

Ilustrasi

Bisnis

Rupiah Tertekan, Ekonomi Indonesia Dikhawatirkan Kontraksi

SENIN, 18 MEI 2026 | 12:13 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ekonom senior Ferry Latuhihin mengkhawatirkan kondisi perekonomian nasional pada semester berikutnya. Ia menilai tekanan ekonomi yang terjadi saat ini berpotensi memicu kontraksi pertumbuhan hingga resesi apabila tidak segera diantisipasi pemerintah.

Menurut Ferry, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu sinyal yang perlu diwaspadai. Ia menyinggung kurs dolar Amerika Serikat yang disebut telah menembus level Rp17.500.

“Kalau saya simpulkan mengenai outlook ke depan, saya khawatir kuartal ketiga dan keempat bukan lagi positive growth tapi kontraksi ekonomi, negative growth,” kata Ferry di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Senin, 18 Mei 2026. 


Ferry menilai pemulihan ekonomi akan sulit dilakukan apabila Indonesia benar-benar masuk ke jurang resesi. Ia menyebut iklim usaha saat ini justru semakin tertekan akibat sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap membebani dunia bisnis.

“Saya katakan tidak gampang baik lagi karena rezim ini membunuh bisnis,” ujarnya.

Ia menyoroti rencana kenaikan royalti sektor pertambangan yang dinilai muncul akibat kondisi fiskal pemerintah yang sedang tertekan. Selain itu, ia juga mengkritik wacana pengenaan pajak terhadap kendaraan listrik yang sebelumnya mendapatkan insentif bebas pajak.

“Itu melanggar janji awal,” katanya.

Ferry turut menyinggung kebijakan pemotongan komisi operator ojek online dari 20 persen menjadi 8 persen yang menurutnya dapat berdampak buruk terhadap keberlangsungan perusahaan platform digital.

Ia menilai kebijakan tersebut justru berisiko mengorbankan para pekerja apabila perusahaan operator seperti Grab dan Gojek mengalami tekanan bisnis serius hingga menghentikan operasionalnya.

“Kalau operator seperti Grab dan Gojek tutup, jutaan manusia bisa jadi pengangguran,” tandasnya.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya