Berita

Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNBC Indonesia)

Bisnis

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

JUMAT, 15 MEI 2026 | 10:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pelemahan nilai tukar Rupiah kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tekanan global dan memburuknya sentimen pasar terhadap ekonomi domestik. 

Di balik pergerakan kurs yang kini berada di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.500 per dolar AS, kalangan dunia usaha melihat adanya sinyal peringatan serius terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dianggap sebagai fenomena biasa ataupun semata-mata dipicu faktor eksternal.


Menurut Ajib, terdapat kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang membuat posisi Rupiah semakin rentan.

“Tidak bisa juga kita katakan bahwa kita baik-baik saja dalam konteks kekuatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar,” ujar Ajib dalam wawancara di sebuah podcast bersama CNBC Indonesia, dikutip redaksi di Jakarta, Jumat 15 Mei 2026.

Ia menjelaskan, sejak awal tahun 2026 Rupiah sebenarnya sudah bergerak di atas asumsi dasar pemerintah dalam APBN. Pada Januari lalu, nilai tukar Rupiah telah berada di level Rp16.800 per Dolar AS, lebih tinggi dibanding asumsi makro APBN yang dipatok di level Rp16.500.

Tekanan kemudian semakin membesar memasuki kuartal kedua ketika rupiah menembus kisaran Rp17.400 hingga Rp17.500 per Dolar AS.

Menurut Ajib, kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap APBN maupun aktivitas dunia usaha.

Ajib menilai salah satu tekanan terbesar berasal dari kondisi eksternal, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih agresif mempertahankan daya tarik Dolar AS.

Federal Reserve hingga kini masih menjaga suku bunga acuan di level 3,75 persen. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah mencapai sekitar 4,47 persen.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung kembali menempatkan dana pada aset berbasis Dolar AS dan meninggalkan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Belum lagi, tensi geopolitik global yang terus memanas turut memperburuk sentimen terhadap aset-aset emerging market.

Namun tekanan terhadap Rupiah, menurut Ajib, tidak hanya berasal dari luar negeri. Ia menilai kondisi domestik juga tengah menghadapi tantangan berat, terutama dari sisi fiskal pemerintah.

Ajib menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61 persen. Menurutnya, pertumbuhan tersebut berpotensi dipacu terlalu agresif oleh stimulus fiskal atau fiscal overheating.

Akibatnya, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin sempit.

Ia mencontohkan adanya evaluasi ulang terhadap potensi restitusi pajak sekitar Rp300 triliun yang seharusnya dikembalikan kepada wajib pajak. Bagi dunia usaha, langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap keuangan negara mulai meningkat.

“Yang menjadi kekhawatiran dunia usaha adalah bagaimana kemampuan fiskal kita sampai dengan akhir tahun,” kata Ajib.

Pelaku usaha khawatir defisit anggaran berpotensi melebar apabila tekanan global terus berlangsung sementara kebutuhan belanja negara tetap tinggi.

Selain fiskal, pasar juga mulai mencermati tren penurunan cadangan devisa Indonesia.

Meski posisi cadangan devisa masih berada di kisaran 146 miliar Dolar AS, Ajib menilai tren pelemahannya menjadi perhatian serius investor.

Tidak hanya itu, aliran devisa dari perdagangan juga dinilai mulai melambat seiring tekanan terhadap neraca dagang meski Indonesia masih mencatat surplus.

“Tren turun itu yang menjadi kekhawatiran pasar sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Ajib, pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi yang lebih preventif agar pelemahan rupiah tetap terkendali dan tidak semakin membebani sektor riil maupun fiskal negara.

Ia mengingatkan, apabila rupiah terus bertahan di atas level Rp17.500 per Dolar AS dalam jangka panjang, maka daya tahan fiskal dan sektor usaha nasional akan menghadapi tantangan yang semakin berat.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya