Berita

Petani dan alat bleng blengan. (Foto: RMOL)

Nusantara

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

LAPORAN: ADIRIN*
SELASA, 12 MEI 2026 | 22:28 WIB

Saat malam mulai menyelimuti area persawahan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, suara dentuman keras kerap terdengar dari tengah sawah. 

Suara itu bukan berasal dari petasan ataupun ledakan lain, melainkan dari alat tradisional bernama “bleng-blengan” yang hingga kini masih dipakai petani untuk mengusir hama tikus.

Di tengah berkembangnya berbagai alat modern pengendali hama, sebagian petani Blora tetap mempertahankan cara tradisional tersebut karena dinilai lebih murah, mudah dibuat, dan relatif aman digunakan.


Bleng-blengan biasanya dinyalakan pada malam hari, saat tikus mulai keluar dan menyerang tanaman padi milik petani. Dentuman yang muncul secara berkala dipercaya mampu membuat hama menjauh dari area pertanian.

Salah satu petani yang masih menggunakan alat tersebut adalah Rofiq (39), warga Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Selain berprofesi sebagai guru SDN, ia juga aktif menggarap sawah miliknya sendiri.

Rofiq mengatakan alat itu dibuat secara mandiri menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

“Bleng-blengan rakitan dewe (Bleng-blengan rakitan sendiri),” kata Rofiq kepada RMOL, Selasa 12 Mei 2026.

Menurutnya, alat tradisional itu cukup membantu mengurangi serangan tikus yang selama ini menjadi masalah utama para petani.

Nggurak tikus (mengusir tikus),” ujarnya singkat.

Ia menjelaskan, bleng-blengan dibuat menggunakan kaleng bekas susu yang dipadukan dengan platina kompor gas. Sementara bahan bakarnya menggunakan spiritus.

“Kaleng susu karo platina kompor gas, bahan bakare pirtus (Kaleng susu dan platina kompor gas, bahan bakarnya spiritus),” jelasnya.

Cara kerjanya cukup sederhana. Api dari spiritus memicu tekanan udara di dalam tabung kaleng hingga menghasilkan ledakan kecil dengan suara keras.

Di sejumlah wilayah pertanian di Blora, penggunaan bleng-blengan sebenarnya bukan hal baru. Alat itu telah digunakan petani sejak lama sebagai cara tradisional untuk menghalau tikus tanpa menggunakan bahan kimia ataupun jebakan berbahaya.

Selain biaya pembuatannya murah, metode tersebut juga dianggap lebih aman dibanding penggunaan jebakan tikus dengan aliran listrik yang selama ini beberapa kali menelan korban jiwa.

Petani lainnya, Sulis (42), menilai penggunaan bleng-blengan jauh lebih aman dibanding memasang setrum listrik di area persawahan.

“Alat tradisional bleng-blengan lebih aman, dan kalau bisa jangan pakai setrum listrik,” katanya.

Menurut Sulis, kasus petani meninggal akibat jebakan tikus listrik hampir selalu terjadi setiap tahun di Kabupaten Blora.

“Belajar dari kasus-kasus di Blora, setiap tahun selalu ada petani yang tewas gara-gara jebakan tikus pakai setrum listrik,” ujarnya.

Kondisi itu membuat sebagian petani mulai memilih metode tradisional yang dianggap lebih aman meski sederhana. 

Selain tidak membahayakan orang lain, bleng-blengan juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan racun maupun aliran listrik tegangan tinggi.

Meski demikian, petani tetap diminta berhati-hati saat menggunakan alat tersebut karena memakai api dan bahan bakar yang mudah terbakar.

Di tengah perkembangan teknologi pertanian modern, keberadaan bleng-blengan menunjukkan bahwa sebagian petani Blora masih mempertahankan cara-cara sederhana dalam menjaga sawah mereka dari serangan hama.

Bagi para petani, suara dentuman keras yang terdengar dari tengah sawah pada malam hari bukan sekadar bunyi biasa, melainkan bagian dari upaya menjaga hasil panen agar tidak rusak diserang tikus.

*Kontributor Blora

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya