Berita

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai. (Foto: Humas Kementerian HAM)

Politik

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

MINGGU, 10 MEI 2026 | 21:25 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Penyelesaian konflik Papua tidak bisa dilakukan secara parsial, apalagi pendekatan kasus per kasus. Konflik berkepanjangan di Papua membutuhkan keputusan politik tingkat nasional dan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Demikian antara lain disampaikan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai menanggapi laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang mencatat 97 peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata di Papua sepanjang 2025, serta 26 kasus tambahan hingga April 2026.

Pigai mengatakan, perkembangan teknologi informasi membuat setiap insiden kekerasan di Papua kini dengan cepat diketahui publik dan menjadi sorotan luas, termasuk di tingkat internasional.


"Setiap peristiwa kekerasan di Papua dengan cepat diketahui publik karena perkembangan teknologi informasi telah membuat arus informasi semakin terbuka dan sulit dibatasi. Karena itu, setiap tindakan kekerasan harus dicegah dan tidak boleh terjadi," kata Pigai dalam keterangan persnya, Minggu, 10 Mei 2026.

Pigai menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak karena akan membentuk persepsi dunia terhadap situasi HAM di Indonesia.

"Berbagai peristiwa kekerasan di Papua saat ini terdokumentasi secara luas dan menjadi perhatian publik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Situasi ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, mengingat setiap peristiwa yang terjadi akan membentuk persepsi global terhadap kondisi HAM di Indonesia," jelas Pigai.

Menurutnya, eskalasi konflik yang terus meningkat menunjukkan bahwa pendekatan biasa tidak lagi memadai untuk menyelesaikan persoalan Papua.

Pigai menegaskan, Komnas HAM memiliki mandat konstitusional untuk melakukan pemantauan dan pengumpulan fakta terkait kondisi HAM di Papua.

Pigai pun menekankan bahwa penyelesaian konflik Papua harus ditempatkan sebagai agenda strategis nasional yang membutuhkan keberanian politik tingkat tinggi.

Menurutnya, selama ini pemerintah dan sejumlah lembaga negara lebih banyak menangani konflik Papua melalui pendekatan sektoral dan respons terhadap kasus tertentu. Namun cara tersebut belum menyentuh akar persoalan yang menyebabkan konflik terus berulang.

Karena itu, Pigai mendorong adanya pendekatan yang lebih menyeluruh melalui dialog dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan guna mencari solusi damai yang berkeadilan.

"Kementerian HAM akan terus mendorong lahirnya pendekatan penyelesaian yang lebih terintegrasi, berkeadilan, dan berbasis penghormatan terhadap hak asasi manusia," terang Pigai.

Pigai menambahkan, pemerintah memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melindungi seluruh warga negara tanpa terkecuali, termasuk masyarakat Papua yang selama ini hidup dalam situasi konflik berkepanjangan.

"Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan perlindungan warga negara di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Papua, sekaligus mencari solusi damai yang mampu menjawab persoalan konflik secara mendasar," pungkas Pigai.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya