Berita

SPBU Pertamina. (Foto: Dokumentasi Pertamina Patra Niaga)

Politik

Jangan Bohongi Rakyat, Pemerintah Didesak Transparan soal Harga dan Kondisi BBM

RABU, 06 MEI 2026 | 10:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintah didesak untuk tidak menutup-nutupi kondisi serta skema penentuan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya BBM bersubsidi. Keterbukaan dinilai menjadi kunci untuk mencegah munculnya spekulasi liar di tengah masyarakat.

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mulyanto, menegaskan pentingnya transparansi dalam menjelaskan struktur biaya, mulai dari produksi hingga harga jual BBM.

Sorotan ini mencuat setelah beredarnya informasi viral yang menyebut harga keekonomian Pertalite mencapai Rp16.088 per liter. Menanggapi hal tersebut, Mulyanto meminta pemerintah membuka secara rinci komponen biaya dalam penentuan harga BBM.


“Audit oleh BPK menjadi penting untuk memastikan bahwa formula yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi riil,” ujar Mulyanto kepada wartawan, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia mengakui bahwa fluktuasi harga energi global tidak dapat dihindari. Namun, menurutnya, negara tetap harus hadir melindungi daya beli masyarakat melalui kebijakan subsidi yang transparan, rasional, dan akuntabel.

Mulyanto juga menekankan pentingnya meluruskan persepsi publik terkait perbedaan struktur harga BBM, khususnya antara Pertalite dan Pertamax.

Secara teknis, ia menilai tidak logis jika BBM dengan kualitas lebih rendah justru memiliki biaya produksi lebih tinggi. Pertalite dengan RON 90 semestinya lebih murah dibandingkan Pertamax dengan RON 92 yang melalui proses pengolahan dan pencampuran (blending) lebih kompleks.

Karena itu, ia menilai persoalan utama terletak pada formulasi kebijakan, bukan pada realitas industri. Ia menduga angka harga keekonomian yang beredar menggunakan pendekatan berbasis harga impor (import parity price) yang belum tentu mencerminkan kondisi domestik.

Jika pendekatan tersebut digunakan tanpa mempertimbangkan produksi dalam negeri dan efisiensi distribusi, maka estimasi biaya dapat meningkat. Dampaknya, beban subsidi negara berpotensi membengkak.

Dalam konteks fiskal, Mulyanto mengingatkan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. APBN harus dijaga tetap sehat dan berkelanjutan, sehingga setiap alokasi subsidi energi harus benar-benar berdasarkan kebutuhan riil, bukan asumsi yang kurang presisi.

“Jika tidak, ruang fiskal negara akan tergerus dan berpotensi mengurangi kemampuan pemerintah membiayai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mulyanto mendorong langkah korektif berbasis data. Pemerintah diminta membuka secara transparan struktur biaya BBM, mulai dari biaya kilang, komposisi impor dan domestik, hingga distribusi dan margin.

Ia juga menilai audit independen oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) penting dilakukan untuk memastikan tidak ada bias dalam formula yang berpotensi merugikan keuangan negara.

“Subsidi energi harus tepat sasaran, tepat hitung, dan tepat kebijakan. Negara harus hadir sebagai pelindung sekaligus pengelola yang amanah dan berpihak pada kepentingan jangka panjang,” pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya