Berita

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris. (Foto: Istimewa)

Politik

Pemerataan Pendidikan Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045

MINGGU, 03 MEI 2026 | 08:14 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Anggota DPD RI Fahira Idris mendorong penguatan guru, percepatan digitalisasi, serta pemerataan layanan pendidikan sebagai kunci utama menjawab berbagai tantangan pendidikan nasional. 

Hal ini disampaikan Senator Jakarta itu dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Menurut Fahira Idris, peringatan Hardiknas menjadi refleksi kolektif bahwa pendidikan tidak hanya soal akses, tetapi juga kualitas dan keadilan. Di tengah berbagai capaian pembangunan pendidikan, Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar, mulai dari ketimpangan antarwilayah, kualitas hasil belajar yang belum optimal, hingga belum meratanya distribusi dan kompetensi guru.


“Hardiknas jadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Namun, fondasi ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pemerataan kualitas dan akses pendidikan,” ujar Fahira Idris dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 3 Mei 2026.

Dia mengungkapkan, ketimpangan pendidikan masih terlihat jelas, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Keterbatasan infrastruktur, akses teknologi, hingga kekurangan tenaga pendidik menjadi hambatan utama yang harus segera diatasi agar tidak memperlebar kesenjangan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, capaian pembelajaran siswa Indonesia yang masih relatif belum memuaskan, termasuk dalam indikator internasional seperti literasi, numerasi, dan sains, menjadi sinyal kuat bahwa transformasi pendidikan harus dilakukan secara lebih sistemik dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Fahira Idris menegaskan bahwa penguatan peran guru menjadi prioritas utama. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga fasilitator pembelajaran, pembentuk karakter, dan agen perubahan dalam sistem pendidikan.

“Transformasi pendidikan harus dimulai dari guru. Peningkatan kompetensi, kesejahteraan, serta pemerataan distribusi guru harus menjadi agenda utama. Tanpa guru yang kuat, semua kebijakan pendidikan akan sulit mencapai dampak yang optimal,” tegas Fahira Idris.

Selain penguatan guru, Fahira Idris juga menekankan pentingnya percepatan digitalisasi pendidikan yang inklusif dan merata. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi harus memastikan seluruh peserta didik, termasuk di daerah 3T, memiliki akses yang sama terhadap sumber belajar berkualitas.

“Digitalisasi pendidikan harus mampu menutup kesenjangan, bukan justru menciptakan kesenjangan baru. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur digital, penyediaan perangkat, serta peningkatan literasi digital guru dan siswa harus berjalan beriringan,” ucapnya.

Lebih lanjut, aktivis perempuan dan perlindungan anak ini menilai bahwa pemerataan layanan pendidikan berkualitas harus menjadi fokus utama kebijakan pendidikan nasional. 

Hal ini mencakup pemerataan infrastruktur, akses pendidikan di semua jenjang, hingga penguatan kebijakan afirmatif bagi daerah dengan kapasitas fiskal dan kinerja pendidikan yang masih rendah.

Pendekatan inovatif, lanjut Fahira Idris, seperti sekolah terintegrasi, pembelajaran jarak jauh, serta model pendidikan berbasis komunitas dapat menjadi solusi untuk memperluas akses pendidikan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

“Negara harus memastikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal hanya karena faktor geografis, ekonomi, atau keterbatasan akses. Pendidikan berkualitas adalah hak semua warga negara,” ungkapnya.

Fahira Idris juga mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk penguatan pembelajaran, peningkatan kesejahteraan guru, serta program digitalisasi dan revitalisasi satuan pendidikan. Namun demikian, ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar berbagai program tersebut benar-benar berdampak nyata di lapangan.

“Pendidikan adalah kerja besar yang membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan kerja bersama dan komitmen yang kuat, kita optimistis pendidikan Indonesia akan semakin maju dan mampu melahirkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Fahira Idris.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya