Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

JUMAT, 01 MEI 2026 | 06:02 WIB

KELUARGA adalah institusi yang paling dikorbankan dalam narasi pembangunan yang terobsesi dengan pertumbuhan tinggi berbasis industrialisasi. Semula keluarga adalah institusi edukatif dan produktif. Namun oleh pembangunan, keluarga diposisikan sebagai satuan konsumtif, sementara ayah dan ibu diposisikan sebagai pekerja atau buruh. 

Ayah dipaksa menjadi buruh dengan upah rendah, sehingga akhirnya ibu pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu ibu dikeluarkan dari rumah untuk menjadi buruh, maka tidak ada tempat yang aman bagi anak di manapun di planet ini. Sekolah pun tidak. 

Malah sekolah adalah instrumen terpenting dalam pendegradasian keluarga. Saat dikatakan bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat belajar, maka tugas keluarga sebagai satuan edukatif dirampas oleh sekolah. Tidak sekolah langsung dianggap tidak terdidik, inkompeten dan kampungan. Bahkan syarat ijazah diberlakukan untuk posisi-posisi jabatan publik. 


Sekolah adalah tempat di mana manusia yang beragam diseragamkan atas nama standar agar bisa dipekerjakan  di pabrik-pabrik. Yang dibutuhkan pabrik adalah pekerja yang patuh, disiplin, dan setia menjalankan mesin-mesin dari pagi hingga petang. Pabrik tidak terlalu membutuhkan pemikir, apalagi manusia yang merdeka. 

Manusia merdeka semacam ini sulit diatur. Penguatan persekolahan yang berlebihan tidak hanya mahal, namun juga makin melemahkan fungsi-fungsi edukatif keluarga. Masyarakat juga perlu memikul tugas pendidikan ini sebagaimana wasiat Ki Hajar Dewantara. It takes a village to raise a child. 

Bekerja bagi lelaki adalah kebanggaan dan sumber harga diri. Namun bekerja tidak boleh direduksi hanya menjadi buruh. Membangun usaha sendiri berskala kecil di rumah harus dihormati, dan memperoleh dukungan pemerintah. Mungkin dengan usaha kecil yang kuat, ekonomi sebuah negara seperti Italia tidak sebesar Jerman dengan dominasi korporasi besar. Namun Italia memiliki ketangguhan yang besar sekaligus keluwesan tersendiri. 

Ekonomi Indonesia saat ini terlalu terkonsentrasi pada segelintir konglomerat sehingga dalam jangka panjang rentan terhadap goncangan geopolitik dan geoekonomi global. Seiring dengan upaya desentralisasi, ekonomi Indonesia perlu didorong lebih terdistribusi dengan koperasi dan usaha kecil lebih berperan, termasuk usaha mikro berbasis keluarga. 

Keluarga harus diperkuat agar memiliki kapasitas produktif sekaligus edukatif yang memadai. Peran ibu perlu difasilitasi agar mampu mengemban dua tugas ini. Upah pekerja harus mencukupi kebutuhan dasar sebuah keluarga yang sehat sehingga para ibu tidak dipaksa keluar dari rumah. 

Multipolarisasi geopolitik di tingkat global memerlukan upaya multipolarisasi ekonomi nasional di mana keluarga ikut memikul tugas-tugas produktif sekaligus edukatif sesuai dengan keunggulan spasial yang beragam dalam bentang alam kepulauan seluas Eropa ini. 

Teknologi konvivial yang rendah energi, menciptakan lapangan kerja, mendorong kreativitas dan sirkular adalah ciri penting Prabowonomics.  


Daniel Mohammad Rosyid
Pemerhati masalah kebangsaan

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Prabowo Bertemu Wakil Menteri Perang AS Elbrigde Colby, Bahas Apa?

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:22

Aksi Kocak dan Absurd dalam Film Kung Fu Soccer

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:18

KPK Panggil Pejabat Hingga Pegawai Pemkab Langkat

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:05

Polri Klarifikasi Rutan Bareskrim Disebut jadi Sarang Narkoba

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:01

Legislator Nasdem Minta Negara Kasih Insentif ke Ibu Rumah Tangga

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:56

KPK Panggil Direktur Bank DBS Indonesia di Kasus TPPU Andhi Pramono

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:46

Lawyer Sebut Kasus Pelabuhan Tanjung Perak Sarat Kriminalisasi

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:29

UOB Geser Strategi, Fokus Garap Emerging Affluent dan Kebutuhan Nasabah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:26

Golkar Dukung Wakil Kepala Daerah Tak Dipilih Lewat Pilkada

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:22

24 Persen Penduduk Sumbang 56 Persen Konsumsi, Ekonom Soroti Kelas Menengah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya