Berita

Ilustrasi Hari Pendidikan Nasional (Sumber: kemendikdasmen)

Nusantara

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 20:21 WIB | OLEH: TIFANI

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia. Penetapan tanggal ini bukan tanpa alasan, melainkan memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan pendidikan di Tanah Air. 

Momentum ini menjadi pengingat penting bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kemajuan bangsa. Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959.

Tanggal tersebut bertepatan dengan hari lahir tokoh pelopor pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal luas atas dedikasinya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh rakyat.


Sosok Ki Hadjar Dewantara dan Perjuangannya

Ki Hadjar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia tumbuh di masa penjajahan, ketika akses pendidikan masih sangat terbatas dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, terutama kaum bangsawan dan penjajah.

Melihat ketimpangan tersebut, ia berinisiatif memperjuangkan pendidikan yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu langkah besarnya adalah mendirikan Taman Siswa pada 1922. 

Lembaga ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional karena membuka akses belajar bagi masyarakat pribumi tanpa diskriminasi.

Filosofi Pendidikan dan Semboyan Legendaris

Konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya kebebasan berpikir, pembentukan karakter, serta kemandirian. Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian.

Salah satu warisan pemikirannya yang paling terkenal adalah semboyan:
“Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”Makna dari semboyan tersebut adalah di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan.

Hingga kini, “Tut Wuri Handayani” diabadikan sebagai moto resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan menjadi dasar filosofi pendidikan nasional.

Peran dalam Pergerakan Kemerdekaan

Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan salah satu pendiri Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Organisasi ini menjadi wadah pergerakan politik yang menentang kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peran aktifnya menunjukkan bahwa pendidikan dan perjuangan kemerdekaan memiliki keterkaitan erat dalam membangun kesadaran nasional.

Peran Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama. Dalam posisi ini, ia berperan besar dalam merumuskan arah dan sistem pendidikan nasional di masa awal kemerdekaan.

Gagasan dan kebijakan yang ia rancang menjadi fondasi penting bagi perkembangan pendidikan di Indonesia hingga saat ini.

Makna Hari Pendidikan Nasional

Penetapan Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi juga menjadi refleksi atas pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa. Hardiknas mengingatkan bahwa perjuangan dalam dunia pendidikan harus terus dilanjutkan, baik oleh pemerintah, tenaga pendidik, maupun masyarakat.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap relevan hingga kini, terutama dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, merata, dan berorientasi pada pengembangan karakter.


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya