Berita

William Panjaitan, Lead of Key Merchant, TikTok GO by Tokopedia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Dari Konten ke Konsumsi: Bagaimana Perilaku Digital Menggerakkan Ekonomi Kuliner

RABU, 29 APRIL 2026 | 13:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perubahan perilaku masyarakat di era digital telah menggeser cara orang menemukan, memilih, hingga mengonsumsi produk, terutama di sektor kuliner. 

Jika dulu keputusan makan lebih banyak dipengaruhi oleh rekomendasi mulut ke mulut atau pencarian manual, kini konten digital menjadi sumber inspirasi utama. Masyarakat tidak lagi sekadar “mencari”, tetapi “menemukan” melalui konten yang relevan, autentik, dan dekat dengan keseharian mereka.

Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan menciptakan nilai ekonomi baru. 


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor makanan dan minuman terus tumbuh, dengan 5,28 juta usaha pada 2024. Sekitar 25 juta UMKM juga telah masuk ke platform digital untuk memperluas pasar. Dari sisi konsumen, 65 persen masyarakat menggunakan platform digital untuk mencari referensi kuliner, menandakan kuatnya peran ekosistem digital.

Konten kuliner, baik dalam bentuk video pendek, ulasan, maupun siaran langsung, berfungsi sebagai jembatan antara informasi dan keputusan konsumsi.  

Dalam satu tayangan, pengguna bisa mendapatkan gambaran lengkap: lokasi, harga, rasa, hingga pengalaman yang ditawarkan sebuah produk. Di titik inilah konten berubah menjadi alat pemasaran yang efektif sekaligus efisien.

Melihat pergeseran ini, TikTok melalui layanan TikTok GO by Tokopedia mencoba mengintegrasikan kekuatan discovery digital dengan pengalaman konsumsi di dunia nyata. 

Layanan ini menghubungkan inspirasi yang muncul di layar dengan kunjungan langsung ke gerai, melalui kombinasi video pendek, LIVE streaming, fitur pencarian, hingga konten berbasis lokasi.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan inisiatif TikTok GO by Tokopedia sejalan dengan upaya mendorong sektor ekonomi kreatif sebagai kekuatan ekonomi nasional.

Pendekatan ini memperkuat ekosistem baru yang mempertemukan pelaku usaha, kreator, dan komunitas dalam satu alur ekonomi yang terintegrasi. 

Bagi pelaku usaha kuliner, terutama UMKM, visibilitas menjadi kunci. Dalam ekonomi digital, kemudahan ditemukan sama pentingnya dengan memiliki produk yang baik. Platform seperti TikTok GO membuka peluang agar bisnis lebih mudah muncul di hadapan calon konsumen yang tepat, pada waktu yang tepat.

William Panjaitan, Lead of Key Merchant TikTok GO by Tokopedia, menegaskan bahwa sektor food and beverage (F&B) memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Konten yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada tahap discovery, tetapi mampu mendorong engagement hingga berujung pada kunjungan nyata dan transaksi. 

"Ini menunjukkan bahwa konten bukan lagi sekadar hiburan, melainkan bagian dari rantai nilai ekonomi," tuturnya kepada media di Jakarta, Rabu 29 April 2026.

Dampak konkret dari integrasi ini terlihat pada pelaku usaha seperti Roti O. Brand roti yang kerap ditemui di stasiun dan bandara ini merasakan peningkatan signifikan dalam kunjungan konsumen setelah memanfaatkan eksposur konten di TikTok GO. 

Menurut Direktur Roti’O, Ali Susanto, kehadiran konten membuat produk lebih dikenal luas dan secara langsung mendorong peningkatan penjualan.

Fenomena ini sejalan dengan tren global di mana social commerce terus tumbuh pesat. Laporan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa keputusan pembelian kini semakin dipengaruhi oleh konten yang bersifat user-generated dan berbasis komunitas. 

Konsumen cenderung lebih percaya pada pengalaman nyata yang dibagikan oleh kreator atau pengguna lain dibandingkan iklan konvensional.

Dengan demikian, pergeseran perilaku digital telah menciptakan model ekonomi baru: dari discovery ke konsumsi dalam satu ekosistem yang terhubung. 

Konten bukan lagi pelengkap, melainkan penggerak utama. Bagi pelaku usaha, kemampuan beradaptasi dengan pola ini bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk bertahan dan berkembang di era ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya