Berita

Gerakan Nasional Energi Kartini Muda Indonesia diluncurkan KAMMI. (Foto: Istimewa)

Politik

Luncurkan Gerakan Nasional Energi Kartini Muda Indonesia

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

SELASA, 28 APRIL 2026 | 20:01 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Di tengah narasi optimisme pemerintah soal swasembada energi, realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya dengan ketergantungan impor yang masih tinggi, produksi minyak yang terus menurun, serta akses energi yang belum merata. 

Di ruang kosong itulah, sebuah Gerakan Nasional Energi Kartini Muda Indonesia diluncurkan KAMMI sebagai inisiator perubahan yang bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai kritik atas arah kebijakan energi nasional.

Produksi minyak Indonesia yang kini hanya berada di kisaran 600-700 ribu barel per hari telah turun jauh dari lebih dari 1,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an, hal ini menjadi simbol nyata kemunduran kapasitas energi nasional. 


Ketergantungan impor yang melampaui 50% kebutuhan domestik menempatkan Indonesia pada posisi rentan, sekaligus memperlihatkan bahwa kedaulatan energi masih jauh dari kenyataan.

Namun yang lebih jarang dibicarakan adalah siapa yang dilibatkan dalam upaya menyelesaikan krisis ini. Data global menunjukkan bahwa perempuan hanya mengisi sekitar 25-30% tenaga kerja di sektor energi. 

Di Indonesia, angka ini bahkan belum terdokumentasi secara sistematis sehingga muncul indikasi bahwa isu ini belum dianggap prioritas.

Ketua Pelaksana kegiatan, Nuraz Anami, menilai bahwa selama ini perempuan lebih sering ditempatkan sebagai objek kebijakan, bukan subjek perubahan. 

“Perempuan selama ini hanya dilihat sebagai pengguna energi, bukan penggerak. Padahal mereka adalah aktor paling dekat dengan pola konsumsi energi, terutama di tingkat rumah tangga,” kata Nuraz dalam keterangan tertulis, Selasa 28 April 2026.

Sementara itu, Ketua Bidang Perempuan PP KAMMI, Rafika Afriyanti, melihat adanya kesenjangan serius dalam pelibatan perempuan di sektor strategis, termasuk energi. 

“Kebijakan energi selama ini belum sensitif gender. Padahal perempuan bukan hanya pengguna, tetapi juga agen perubahan. Mereka bisa menjadi penggerak energi berbasis komunitas, pelaku UMKM energi bersih, hingga edukator di masyarakat,” ungkapnya.

Narasi ini mengingatkan kembali pada pemikiran Raden Ajeng Kartini. “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak lagi sekadar slogan emansipasi, tetapi menjadi metafora kondisi energi nasional. 

Gelapnya ketergantungan dan ketimpangan, serta harapan akan terang berupa kemandirian dan keadilan energi. Namun pertanyaannya, apakah negara siap keluar dari “gelap” itu?

Ketua Umum PP KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar simbolik, tetapi merupakan bentuk konsolidasi nyata pemuda dan perempuan untuk mengambil peran dalam pembangunan nasional. 

“Pemuda dan perempuan harus menjadi bagian dari solusi. Gerakan ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa perubahan tidak hanya datang dari atas, tetapi juga dari masyarakat,” pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya