Berita

Jokowi dan Kaesang (Foto: Net)

Politik

PSI Bangga “Begal” Kader Partai Lain, Pengamat: Tanda Kaesang Pangarep Gagal Kaderisasi

JUMAT, 17 APRIL 2026 | 09:59 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan elite Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengklaim akan kembali menerima sejumlah kader dari partai lain menuai sorotan tajam.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai kebanggaan tersebut justru menunjukkan kelemahan internal partai, khususnya dalam hal kaderisasi.

Menurutnya, keberhasilan merekrut kader dari partai lain kerap dianggap sebagai kemenangan simbolis dan indikator daya tarik partai. Namun di sisi lain, hal itu justru mengindikasikan kegagalan dalam mencetak kader sendiri.


“Padahal menerima kader partai lain mengindikasikan lemahnya sistem kaderisasi internal partai dalam menciptakan pemimpin sendiri. Partai tersebut tak mampu menghadirkan pemimpin yang dapat diterima masyarakat,” ujarnya kepada wartawan, Jumat, 17 April 2026.

Ia menilai indikasi tersebut terlihat jelas di tubuh PSI. Kepemimpinan Kaesang Pangarep sebagai ketua umum dinilai belum mampu berdiri sendiri, bahkan harus ditopang oleh Ketua Harian, Ahmad Ali.

“Hal ini mengindikasikan ketidakmampuan Kaesang dalam memimpin PSI, termasuk dalam kaderisasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jamiluddin menegaskan bahwa kekuatan partai semestinya dibangun melalui kaderisasi internal yang kuat, bukan dengan mengandalkan “bajakan” kader dari partai lain.

Ia bahkan menilai langkah tersebut lebih mencerminkan sikap pragmatis ketimbang kekuatan ideologis partai. Menurutnya, bangga menerima kader lain bukan karena daya tarik partai, tapi hanya sebagai sikap pragmatis. Partai lebih mengutamakan kemenangan instan daripada ideologi.

Meski mengklaim berhasil menarik kader dari partai lain, termasuk dari Partai NasDem, elektabilitas PSI dinilai belum menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data terbaru, elektabilitas PSI masih berada di angka 1,2 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa konsolidasi dengan kader baru belum mampu mendongkrak posisi partai di mata publik.
Jamiluddin pun mengingatkan agar PSI tidak terlena dengan fenomena tersebut. 

Ia menilai, terlalu banyak menerima kader dari luar justru berisiko menggerus identitas dan ideologi partai.

Selain itu, potensi konflik internal juga dinilai terbuka lebar, terutama antara kader lama dan kader baru dalam perebutan posisi strategis.

“Masuknya kader partai lain berpotensi menimbulkan gesekan dengan kader lama yang merasa dilangkahi, terutama dalam perebutan posisi strategis di PSI,” katanya.

Karena itu, Jamiluddin menyarankan PSI untuk lebih selektif dan mawas diri dalam menerima kader baru. Jangan sampai partai berlambang gajah tersebut hanya dipandang sebagai kendaraan politik semata.

“Kalau hal itu yang terjadi, PSI nantinya akan dijadikan para ‘kutu loncat’ hanya untuk kendaraan politik pribadinya. Tentu hal itu tak diinginkan para pendiri PSI,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya