Berita

Delegasi Iran tiba di Pakistan (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Dawn News)

Dunia

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

SABTU, 11 APRIL 2026 | 07:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Delegasi Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan, untuk melakukan pembicaraan penting dengan Amerika Serikat (AS) terkait konflik yang telah berlangsung selama enam minggu.

Pertemuan ini dipandang sebagai momen krusial yang dapat menentukan arah perdamaian. Namun sejak awal, proses negosiasi sudah dibayangi ketegangan karena Iran bersikeras mengajukan sejumlah syarat sebelum pembicaraan resmi dimulai.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 11 April 2026, Iran mengajukan beberapa tuntutan utama. Salah satunya adalah agar gencatan senjata tidak hanya berlaku antara Iran dan AS, tetapi juga mencakup konflik di Lebanon.


Selain itu, Teheran meminta agar aset-aset mereka yang selama ini dibekukan segera dicairkan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa Washington telah menyetujui tuntutan tersebut. Karena itu, Iran menolak memulai negosiasi sebelum janji tersebut benar-benar ditepati.

Delegasi Iran yang hadir pun berjumlah besar, sekitar 70 orang, terdiri dari berbagai ahli. Hal ini menunjukkan betapa sensitif dan kompleksnya perundingan yang akan berlangsung.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap tegas dengan menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan.

“Satu-satunya alasan mereka masih bertahan hingga hari ini adalah untuk bernegosiasi,” ujarnya.

Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS juga menyampaikan optimisme, namun tetap memberikan peringatan. Ia menegaskan bahwa jika Iran mencoba mempermainkan proses ini, pihak AS tidak akan bersikap lunak.

Sementara itu, Iran menyatakan tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan, meskipun mengaku belum sepenuhnya percaya kepada Washington.

Sebelumnya, gencatan senjata selama dua minggu sempat meredakan situasi dengan menghentikan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran. Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda.

Iran masih memblokade Selat Hormuz, sementara konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon terus berlangsung.

Serangan Israel di Lebanon selatan bahkan masih berlanjut. Setelah pengumuman gencatan senjata, serangan besar dilaporkan menewaskan lebih dari 350 orang. Serangan terbaru juga menghantam gedung pemerintah di Nabatieh dan menewaskan 13 anggota pasukan keamanan Lebanon.

Sebagai balasan, Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel utara. Sejak awal Maret, hampir 2.000 orang dilaporkan tewas akibat konflik di Lebanon.

Di tengah situasi tersebut, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengambil sikap tegas. Ia menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang dan memperingatkan bahwa pihak yang menyerang Iran tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.

Konflik ini tidak hanya berdampak secara geopolitik, tetapi juga mengguncang ekonomi global. Gangguan di Selat Hormuz telah menghambat pasokan energi, mendorong kenaikan harga, dan meningkatkan inflasi.

Data terbaru menunjukkan inflasi di Amerika Serikat naik 0,9 persen pada Maret—kenaikan tercepat sejak 2022—yang menjadi indikator nyata dampak konflik terhadap ekonomi dunia.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menggambarkan negosiasi kali ini sebagai fase yang sangat menentukan. Ia menyebutnya sebagai tahap “hidup atau mati”, yang akan menentukan apakah konflik akan mereda atau justru kembali memanas dalam waktu dekat.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya