Berita

Presiden AS Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Times Now)

Dunia

Manuver Gertak Sambal 50 Persen Trump: Strategi Menang atau Sekadar Politik?

JUMAT, 10 APRIL 2026 | 08:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Hanya dalam hitungan jam setelah menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan Iran, Presiden Donald Trump kembali mengguncang panggung global. 

Lewat "diplomasi media sosial"-nya, ia mengancam akan memberlakukan tarif impor raksasa sebesar 50 persen bagi negara mana pun yang nekat memasok senjata ke Teheran.

“Negara yang memasok senjata militer ke Iran akan langsung dikenakan tarif… sebesar 50 persen, berlaku segera. Tidak akan ada pengecualian,” tegas Trump, dikutip dari AlJazeera, Jumat 10 April 2026.


Berbeda dengan eskalasi sebelumnya, ancaman kali ini muncul di tengah kondisi yang sangat cair, di mana AS dan Iran baru saja menyepakati jeda tempur selama 14 hari yang dimediasi oleh Pakistan pada 7 April lalu. 

Trump mengklaim ini sebagai "kemenangan total," namun ancaman tarif ini menunjukkan bahwa ia belum berniat menurunkan tensi sepenuhnya.

Meskipun ada gencatan senjata, jalur perdagangan di Selat Hormuz masih tegang. Trump menekan China untuk membantu menjamin keamanan jalur tersebut, atau risiko tarif ini akan benar-benar mendarat di barang-barang Beijing.

Analis melihat ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi peringatan keras agar Moskow dan Beijing tidak memanfaatkan masa jeda perang untuk mengisi kembali (re-stock) gudang senjata Iran yang hancur akibat serangan AS beberapa minggu lalu.

Meski terdengar mengerikan, realisasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Trump menghadapi "pagar betis" hukum di dalam negeri.

Sebelumnya, MA Amerika Serikat telah memangkas wewenang presiden dalam menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk memaksakan tarif secara sepihak tanpa restu Kongres.

Tanpa jalur cepat IEEPA, pemerintah harus melalui investigasi Section 301 atau jalur legislasi yang memakan waktu berbulan-bulan, bukan "berlaku segera" seperti yang diklaim.

Para pakar cenderung melihat ini sebagai instrumen negosiasi, bukan rencana eksekusi mati.

"Ini adalah bahasa sandi untuk Beijing. Trump ingin memastikan China tetap berada di jalurnya menjelang pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping yang sempat tertunda," ungkap Josh Lipsky dari Atlantic Council.

Jika tarif 50 persen ini benar-benar diketok, dampaknya akan berbalik ke warga AS sendiri. Harga barang elektronik, suku cadang, hingga kebutuhan pokok bisa meroket akibat biaya impor yang membengkak, yang justru dapat menggerus popularitas Trump di mata pemilih domestik.

Langkah ini lebih terlihat sebagai manuver untuk menjaga posisi tawar AS tetap di atas angin selama masa gencatan senjata. Trump sedang memainkan strategi maximum pressure di meja perundingan, sambil memegang "pedang" tarif untuk menakut-nakuti lawan bicaranya.

Kabar terbaru menyebutkan rencana pertemuan Trump dan Xi Jinping dijadwalkan ulang setelah sempat tertunda karena perang. Ancaman tarif ini diprediksi akan menjadi kartu as Trump di meja makan nanti.

Wall Street merespons pengumuman ini dengan volatilitas tinggi, terutama pada saham teknologi yang memiliki ketergantungan besar pada rantai pasok global.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya