Berita

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Istimewa)

Presisi

Amerika Wajib Disanksi Nuklir!

RABU, 08 APRIL 2026 | 04:07 WIB

YANG namanya sanksi, itu diberikan karena melakukan pelanggaran. Fungsinya sebagai hukuman dan sekaligus agar tak mengulangi perbuatan. Agar bisa menjadi contoh yang lain, tidak melakukan hal serupa.

Orang disanksi penjara dalam kasus pembunuhan, itu karena terbukti telah membunuh. Bukan karena memiliki golok atau pistol, yang bisa digunakan untuk membunuh.

Tak ada seorang pun bisa disanksi pembunuhan, hanya karena memiliki pistol atau golok. Sebab, setajam apapun golok, dan sehebat apapun pistol, selama hanya dipegang, tidak untuk membunuh, ya tidak akan menimbulkan kejahatan pembunuhan dan tidak bisa disanksi.


Sanksi senjata nuklir, itu diberikan pada negara yang terbukti menyalahgunakan nuklir untuk membunuh secara massal dan merusak peradaban manusia. 

Tak boleh ada sanksi pada negara yang tak pernah menggunakan bom nuklir untuk membunuh, tak pernah pula terbukti punya bom nuklir.

Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang telah menggunakan senjata nuklir (bom nuklir) untuk membombardir Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Dampaknya, kerusakan dan pembunuhan masal, hancurnya peradaban.

Sehingga, Amerika wajib disanksi nuklir. Dengan melucuti senjata nuklir Amerika, dan selamanya Amerika tak boleh mengembangkan teknologi nuklir, arena khawatir akan disalahgunakan untuk melakukan pembantaian massal lagi, seperti yang dilakukannya terhadap Jepang.

Iran tak layak mendapatkan sanksi nuklir. Alasannya, Iran tak pernah menggunakan senjata nuklir. Iran, bahkan belum terbukti mampu membuat senjata nuklir.

Adapun teknologi nuklir, adalah hak setiap bangsa. Karena teknologi ini, bisa digunakan untuk kebaikan, atau untuk berbuat kerusakan.

Nuklir di tangan negara yang benar, akan menjadi manfaat. Nuklir di tangan Amerika, akan membumihanguskan manusia, seperti di Hiroshima dan Nagasaki.

Anehnya, kenapa dunia hanya membolehkan senjata nuklir dikuasai Amerika, Inggris, Prancis, China dan Rusia? 

Jawabnya, nuklir adalah alat dominasi. Alat menekan dan mengancam, agar kekayaan dunia hanya untuk dikumpulkan bagi segelintir manusia. Nuklir adalah alat penjajahan.

Bagaimana dengan Islam?

Nuklir ibarat pedang. Wajib dimiliki dan dikuasai. Umat Islam, wajib mengembangkan senjata nuklir hingga yang paling canggih, yang sekali pencet tombol nuklir, bisa membumihanguskan daratan Amerika.

Tapi nuklir yang dimiliki umat Islam, haram digunakan untuk membumihanguskan seperti yang dilakukan oleh penjahat Amerika. 

Nuklir hanya untuk menggentarkan musuh. Agar musuh tak menekan dan mendikte umat Islam, dan merampok kekayaan negeri Islam.

Saat umat Islam memiliki negara Khilafah, maka Khilafah wajib memiliki senjata nuklir. Sehingga, setiap Khilafah menerapkan keadilan Islam untuk memakmurkan bumi, tak ada satupun negara yang bisa menentang apalagi mengancam. 

Agar dakwah Islam, bisa sampai ke penjuru alam dengan pendekatan pemikiran dan penyadaran, tanpa ada penentangan secara fisik dan militer.

Khilafah wajib memiliki senjata nuklir, agar tentara jihad bisa menunaikan jihad secara maksimal, tanpa takut ancaman nuklir dari musuh. Sebab, jika musuh berani menggunakan nuklir, maka Khilafah tak akan segan-segan membalasnya.

Darah dibalas darah, nyawa dibalas dengan nyawa, sipil dibalas dengan sipil, kerusakan fasilitas publik dan pembangkit listrik dibalas setimpal, dan serangan nuklir akan dibalas dengan nuklir.

Sejatinya, nuklir tak akan pernah digunakan oleh manusia selain untuk alat tawar, alat penekan. Hanya Amerika, peradaban gila yang menggunakan nuklir untuk membumihanguskan manusia.

Lalu, dunia dipaksa tunduk pada Amerika. Membiarkan Amerika yang gila memiliki senjata nuklir, dan melarang negara lainnya. 

Itu sama saja dunia ikut menjadi gila, dan menyerahkan kekayaan dunia untuk dikumpulkan bagi kekayaan Amerika.

Sekali lagi, umat Islam wajib memiliki nuklir. Iran berhak bahkan berkewajiban memiliki senjata nuklir. 

Sedangkan Amerika, wajib disanksi tak boleh memiliki senjata nuklir, karena terbukti menggunakan nuklir untuk membantai secara massal penduduk Jepang.

Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Polri Didorong Selidiki PKS yang Membeli TBS di Bawah Harga Resmi

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:23

Kapolri Ngaku Belum Baca Rinci UU Polri yang Baru Disahkan

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:17

Pemerintah Ungkap Alasan Kenaikan Batas Usia Pensiun Anggota Polri

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:14

Rel Pertama, Palang Terakhir

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:09

KPK Temukan Indikasi TPPU dalam Kasus Silmy Karim

Selasa, 09 Juni 2026 | 12:02

Paripurna DPR Sahkan RUU Polri jadi UU

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:41

Dewan Kesejahteraan Buruh Batal Dibentuk, Ini Penjelasan Mensesneg

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:37

Ada Tiga Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:24

Pertanyakan Laporan Keuangan Danantara, FPHI Bersurat ke Presiden Prabowo

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:17

Emas Antam Merosot Rp10.000, Turun ke Level Rp2,73 Juta per Gram

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:58

Selengkapnya