Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Suluh

Dari Selat Hormuz ke Peta Energi Baru: Saat Krisis Menjadi Titik Balik Global

SABTU, 28 MARET 2026 | 07:51 WIB | OLEH: RENI ERINA

Penutupan Selat Hormuz tidak lagi bisa dilihat sebagai sekadar insiden geopolitik biasa. Peristiwa ini justru terasa seperti penanda awal perubahan yang lebih besar dalam dinamika energi global.

Dalam waktu singkat, pasar bereaksi keras. Negara-negara besar pun mulai menata ulang strategi mereka. Salah satu respons yang menarik perhatian adalah langkah Rusia di bawah Vladimir Putin, yang tampaknya melihat situasi ini sebagai momentum untuk memperkuat kembali posisinya di pasar energi dunia.

Lonjakan harga minyak yang dilaporkan meningkat tajam, bahkan hingga sekitar 30 persen, menjadi sinyal paling nyata dari guncangan ini. Namun, ada hal penting di baliknya, yaitu gangguan di satu jalur sempit seperti Selat Hormuz ternyata mampu mengguncang sistem energi global secara keseluruhan. 


Ini memperlihatkan bahwa ketergantungan pada jalur distribusi tertentu masih menjadi kerentanan besar yang, mungkin, selama ini belum benar-benar diantisipasi.

Dalam konteks tersebut, nampaknya langkah Rusia bukan sekadar respons jangka pendek. Ada kesan bahwa kebijakan energi mulai digunakan sebagai instrumen strategis yang lebih luas. Ketika pemerintah Rusia mengisyaratkan kemungkinan pengurangan, bahkan penghentian pasokan energi ke Uni Eropa, hal ini berpotensi menambah tekanan bagi kawasan tersebut, terutama karena Eropa sendiri masih berada dalam proses transisi energi.

Di sisi lain, Rusia tampaknya semakin serius mengarahkan fokusnya ke Asia. Permintaan energi yang terus tumbuh di kawasan ini, terutama dari negara seperti China dan India, membuka peluang baru bagi Moskow untuk mengalihkan ekspor minyak dan gasnya. 

Tentu, ini bukan hanya soal perubahan pasar, tetapi juga tentang bagaimana poros pengaruh ekonomi global perlahan bisa bergeser.

Krisis ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk pendekatan konfrontatif terhadap Iran pada masa Donald Trump. Dalam sistem energi global yang saling terhubung, ketegangan regional seperti ini memang mudah sekali meluas menjadi krisis yang dampaknya terasa di mana-mana.

Dampaknya kini mulai terlihat di berbagai sektor. Kenaikan harga energi mendorong inflasi, meningkatkan biaya produksi dan distribusi, serta berpotensi menahan laju konsumsi. Dalam situasi seperti ini, agaknya risiko perlambatan ekonomi global menjadi sesuatu yang cukup masuk akal untuk diantisipasi.

Namun demikian, di balik tekanan jangka pendek, ada sisi lain yang tidak kalah penting. Krisis seperti ini sering kali justru mempercepat perubahan yang sebelumnya berjalan lambat. Negara-negara kini tampak semakin menyadari pentingnya diversifikasi sumber energi, pembangunan infrastruktur alternatif, serta penguatan ketahanan energi domestik.

Pada akhirnya, energi bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia telah menjadi instrumen strategis dalam geopolitik global. Kontrol atas pasokan dan distribusi energi, dalam banyak hal, dapat menentukan arah hubungan internasional.

Apa yang bermula dari gangguan di Selat Hormuz, kini berkembang menjadi momen refleksi sekaligus redefinisi. Dunia tidak hanya sedang menghadapi krisis energi, tetapi juga sedang menyaksikan pergeseran yang lebih mendasar dalam cara kekuatan global dibentuk dan dijalankan.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya