Berita

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Reuters)

Publika

Amerika Makin Terkunci

SELASA, 24 MARET 2026 | 05:25 WIB

SALAH perhitungan! Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan penyerangan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari lalu.

Amerika begitu yakin, sekali serang, pimpinan terbunuh dan Iran menyerah. Maka, setelah penyerangan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata. 

Tapi, apa yang terjadi? Dalam hitungan jam, Iran balik menyerang. Kali ini, bukan hanya Israel yang jadi sasaran. Tapi juga semua pangkalan militer Amerika di kawasan teluk. Tak satupun sasaran yang lolos dari rudal Iran.


Iran membuat pernyataan: perang harus dituntaskan. Tak ada kata berakhir, kecuali Iran sendiri yang mengakhirinya dengan syarat: pertama, Amerika tidak akan menyerang lagi. Kedua, semua pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dibubarkan. Ketiga, embargo terhadap Iran dicabut.

Tiga syarat yang tidak hanya sulit, tapi tak mungkin bisa dipenuhi oleh Amerika. Kecuali satu yaitu cabut embargo terhadap Iran. 

Ketika Amerika cabut embargo, ini menjadi deklarasi kepada dunia bahwa Amerika kalah dan berada dalam tekanan Iran.

Kenapa Iran punya nyali untuk terus perang? Pertama, serangan Amerika telah menodai marwah bangsa Persia, terutama ketika membunuh Ayatollah Ali Khomeini yang menjadi simbol negara dan spiritual warga Iran. 

Serangan mematikan ini telah membangkitkan emosi dan spirit perlawanan Iran. Kedua, Iran punya teknologi perang dan stok alutsista yang setidaknya sedikit bisa mengimbangi Amerika untuk memperpanjang durasi perang. Ketiga, Iran pegang kartu truf di Selat Hormuz. 

Di selat ini ada dua jalur vital. Petama, minyak dan gas. Sebanyak 20 persen minyak dunia lewat selat ini. Juga 25 persen gas dunia. Kedua, kabel optik di bawah Selat Hormuz.

Ketika jalur minyak ditutup, harga minyak melambung tinggi. Dari 65-72 dolar AS per barel jadi 100-113 dolar AS per barel. 

Dunia kebingungan, termasuk Amerika. Kurang dari dua minggu Selat Hormuz ditutup, Amerika melunak dan buka kran minyak dari Rusia. 

Saat ini, Amerika sedang mempertimbangkan untuk mencabut embargo terhadap Iran. Fakta ini menjadi tanda kekalahan awal bagi Amerika.

Bayangkan jika kabel optik diputus. Jalur data dunia, termasuk data finance akan terputus. Keadaan ini akan menambah kekacauan global. Krisis energi dan krisis data.

Amerika tak mau hilang muka. Tak akan bisa terima jika dianggap kalah. Kalah, maka Amerika akan kehilangan marwahnya, terutama di mata negara Teluk dan Eropa.

Maka, Amerika ngotot mau habisi Iran. Amerika lakukan provokasi, baik kepada negara-negara teluk maupun NATO untuk turut serta kerahkan kekuatan militar ke wilayah Iran. 

Sayang, provokasi Amerika tidak mendapat respon. Terutama Perancis dan Spanyol dengan tegas menolaknya. 

Satu-satunya jalan jika Amerika ingin habisi Iran, negara Trump ini harus turunkan pasukan darat dalam jumlah besar. 

Jika ini dilakukan, perang paling cepat akan selesai 18 bulan. Perang butuh biaya 3 triliun dolar AS. 

Ada sekitar 15.000 tentara yang kemungkinan akan jadi martirnya. Yang tidak kalah berisiko, Iran bisa putus kabel optik di bawah selat Hormuz. 

Jika ini dilakukan, dunia, terutama Eropa akan mengalami bencana. Dan opsi terakhir jika terdesak, Iran bisa tembakkan rudal dengan hulu ledak nuklir ke Israel. Ini akan jadi kiamat buat Israel.

Sungguh dilematis. Posisi Amerika betul-betul sulit. Menerima syarat Iran, Amerika kehilangan muka dan ini akan meruntuhkan kepercayaan dunia pada kekuatan Amerika. 

Hajar Iran, biayanya terlalu besar dan bisa memicu perang nuklir. Inilah risiko ketika salah hitung dalam perang, gegabah dan meremehkan lawan.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya