Berita

Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri, Dr Umar Surya Fana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Mantra "Prosedur adalah Panglima", Menjawab Alasan Penjahat Bisa Bebas

SENIN, 23 MARET 2026 | 10:04 WIB | OLEH: IRJEN POL. DR. UMAR S. FANA, S.H., S.I.K., M.H.*

PERNAHKAN Anda merasa geram saat membaca berita tentang seorang tersangka korupsi atau pengedar narkoba yang tiba-tiba melenggang bebas karena memenangkan gugatan Praperadilan? Reaksi pertama kita biasanya sama: "Wah, ada main ini!" atau "Hukum kita tajam ke bawah, tumpul ke atas!"

Namun, sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian /STIK, saya sering menyampaikan kepada para perwira mahasiswa sebuah kebenaran yang pahit namun fundamental: Dalam negara hukum, prosedur adalah panglima. Substansi yang benar bisa kalah telak hanya karena kesalahan teknis.

Filosofi Gelas Kotor


Mari kita bicara dengan bahasa dapur. Bayangkan Anda disuguhi air mineral paling murni di dunia (ini adalah substansi—fakta bahwa seseorang memang berbuat jahat). Namun, air itu disajikan dalam gelas yang penuh lumpur, retak, dan bau (ini adalah prosedur—tata cara hukum).

Apakah Anda mau meminumnya? Tentu tidak. Anda akan membuangnya. Begitu juga Hakim. Sejernih apa pun bukti yang ditemukan polisi, jika cara mendapatkannya "kotor"—misalnya menangkap tanpa surat, menggeledah tanpa izin, atau menetapkan tersangka tanpa bukti yang cukup— maka demi hukum, kasus itu harus dibuang.

UU 20/2025: "Pagar" yang Semakin Tinggi

Kehadiran UU 20/2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru, sebenarnya adalah upaya negara untuk memastikan tidak ada lagi "gelas kotor" dalam peradilan kita. Undang-undang ini bukan untuk mempersulit polisi, tapi untuk melindungi kita semua.

Dalam Pasal 1 angka 28 UU 20/2025, ditegaskan bahwa penetapan tersangka tidak boleh berdasarkan "firasat" atau "katanya". Harus ada minimal dua alat bukti yang sah. Jika penyidik nekat menetapkan tersangka hanya dengan satu bukti atau bukti yang dipaksakan, maka Pasal 1 angka 15 memberikan hak kepada tersangka untuk membatalkannya lewat Praperadilan.

Kenapa harus serewel itu? Karena jika polisi dibiarkan melanggar prosedur demi menangkap satu orang jahat, maka besok-besok, prosedur yang sama bisa dilanggar untuk menangkap Anda, saya, atau siapa pun yang tidak bersalah. Prosedur adalah pembatas agar kekuasaan tidak meluber menjadi kesewenang-wenangan.
 
Pesan untuk Rekan Penyidik: Jadilah Arsitek Berkas

Bagi rekan-rekan penyidik di seluruh Indonesia, tantangan di era UU No. 20/2025 bukan lagi sekadar adu otot atau adu cepat, melainkan adu presisi. Kualitas seorang penyidik kini tidak diukur dari seberapa sangar ia di lapangan, tapi seberapa "kedap air" berkas perkaranya.

Satu tanda tangan yang terlewat, atau pengabaian hak tersangka untuk didampingi pengacara sesuai Pasal 142 huruf b, adalah celah fatal. Ingat, satu kesalahan teknis adalah karpet merah bagi pengacara lawan untuk meruntuhkan kerja keras Anda selama berbulan-bulan.

Di bawah UU baru ini, tindakan seperti pemblokiran pun harus seizin Ketua Pengadilan (Pasal 140 ayat 2). Jika prosedur ini dilompati, hasilnya nol besar.
 
Untuk Masyarakat: Sabar adalah Bagian dari Keadilan

Masyarakat juga perlu mendapat literasi bahwa ketika polisi terlihat "lambat" atau menanyakan hal-hal yang berbelit, itu seringkali karena mereka sedang memastikan setiap baut dalam mesin hukum terpasang dengan benar. Kita tidak ingin penjahat bebas hanya karena kita terburu-buru dan melakukan kesalahan prosedur.

Kita harus sepakat bahwa keadilan tidak boleh dicapai dengan cara yang melanggar hukum. Jika kita membenarkan cara yang salah untuk tujuan yang benar, maka kita sedang menghancurkan pondasi negara hukum itu sendiri.
 
Penutup

Hukum acara (prosedur) adalah rel, sedangkan hukum pidana (substansi) adalah keretanya. Sehebat apa pun mesin keretanya, jika relnya bengkok atau putus, kereta itu tidak akan pernah sampai ke stasiun tujuan: Keadilan.

Mari kita dukung Polri yang semakin profesional dengan memahami bahwa kepatuhan pada prosedur adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap kemanusiaan. Karena pada akhirnya, lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah karena salah prosedur.

Salam literasi hukum.

*Penulis adalah Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri; Dosen Utama STIK/PTIK

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya