Berita

Jürgen Habermas. (Foto: YouTube Berkley Center)

Publika

Jürgen Habermas, Pembongkar Ruang Emansipasi dalam Ilmu Manajemen

MINGGU, 15 MARET 2026 | 18:01 WIB

Habermas tak pernah duduk di ruang rapat dewan direksi, dan mungkin tak pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan. Namun, ia telah memberikan kepada para akademisi dan praktisi manajemen sebuah cermin untuk melihat wajah mereka sendiri. Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah ruang kehidupan, bukan hanya sebuah sistem.

DUNIA kehilangan salah satu pemikir sosial terbesar abad ke-20. Jürgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman yang merupakan pewaris sekaligus pembaharu tradisi Frankfurt School, telah berpulang di usia 96 tahun di Starnberg, Jerman.

Kepergiannya pada 14 Maret 2026 (kemarin), telah meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia filsafat dan teori sosial, tetapi juga bagi sebuah cabang ilmu yang mungkin tidak pernah secara langsung ia geluti, namun fondasi pemikirannya telah merevolusi cara kita memandang organisasi dan kekuasaan: ilmu manajemen.


Selama ini, Habermas lebih dikenal luas melalui karya monumentalnya seperti The Theory of Communicative Action atau The Structural Transformation of the Public Sphere.

Pemikiran beliau juga telah banyak dibicarakan di publik dan ditulis dalam buku-buku filsafat dan sosiologi berbahasa Indonesia sejak tahun 1990-an. Karena itu, dalam obituari ini kita hendak memberikan penghormatan khusus pada Habermas atas sumbangsihnya yang luar biasa dalam pengembangan salah satu ranting kajian dalam bidang ilmu manajemen, yaitu Critical Management Studies (CMS).

Melalui rahim emansipatoris yang disemai benih pemikiran Habermas, CMS lahir sebagai kritik sekaligus proyek pembebasan rasionalitas dari belenggu sistem.

Rasionalitas Instrumental

Untuk memahami kontribusi Habermas pada manajemen, kita harus kembali pada diagnosisnya atas penyakit masyarakat modern: yang ia sebut sebagai ”kolonisasi dunia kehidupan (lifeworld) oleh sistem”. Dalam argumen Habermas, rasionalitas yang seharusnya membebaskan manusia, dalam praktiknya telah tereduksi menjadi sekadar rasionalitas instrumental.

Rasionalis jenis ini adalah cara berpikir yang hanya peduli pada efisiensi dan kendali ala kadarnya sebagaimana juga dikritik oleh pendahulunya di Frankfurt School, Horkheimer dan Adorno.

Dalam konteks manajemen, rasionalitas instrumental ini menjelma menjadi mesin raksasa yang mencengkeram. Manajemen klasik dan modern justru kerap menjadi alat kolonisasi tersebut: pekerja direduksi menjadi sumber daya, interaksi manusia disederhanakan menjadi transaksi, dan keberhasilan hanya diukur dari akumulasi materi. Habermas membongkar semua itu dengan menawarkan alternatif: rasionalitas komunikatif.

Menurut Habermas, rasionalitas manusia lahir dari proses komunikasi yang berhasil mencapai pemahaman bersama. Dalam argumennya, potensi rasionalitas sebenarnya sudah melekat secara alamiah dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Rasionalitas komunikatif mengungkapkan norma-norma dan prosedur yang memungkinkan tercapainya kesepakatan, serta memandang nalar sebagai bentuk pembenaran publik.

Habermas berupaya merumuskan potensi tersebut secara eksplisit dengan mengamati bagaimana individu yang kompeten dalam berbicara dan bertindak secara intuitif menguasai aturan-aturan berargumentasi. 

Sumbangsih terbesar Habermas bagi CMS adalah pada kerangka berpikir yang menempatkan komunikasi, bukan komando, sebagai inti dari tindakan manusia. Dalam pandangannya, tindakan komunikatif bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama (Verständigung), bukan sekadar keberhasilan teknis.

Ia memberikan para akademisi manajemen sebuah pisau analisis untuk membedah bagaimana bahasa dalam organisasi tidak pernah netral?"ia bisa menjadi alat dominasi, tetapi juga bisa menjadi alat emansipasi.

Fondasi Epistemologis CMS

Perawi CMS seperti Andreas Georg Scherer menegaskan bahwa teori kritis, terutama yang dikembangkan oleh Habermas, adalah fondasi filosofis terpenting dalam kemunculan CMS, bahkan mungkin lebih berpengaruh dibandingkan labor process theory atau teori pasca-strukturalisme.

Mengapa demikian? Tentu, karena Habermas memberi CMS legitimasi untuk tidak hanya menjadi ”kritik” yang sinis, tetapi juga normatif. Ia memperkenalkan gagasan tentang kepentingan konstitutif pengetahuan (knowledge-constitutive interests) yang terdiri dari tiga hal.

Pertama, kepentingan teknis (kerja) yang melahirkan ilmu empiris-analitis. Kedua, kepentingan praktis (interaksi) yang melahirkan ilmu historis-hermeneutik. Ketiga, kepentingan emansipatoris (kekuasaan) yang melahirkan ilmu kritis.

Bagi CMS, kerangka ini membuka mata bahwa praktik manajemen selama ini hanya berkutat pada kepentingan teknis (seperti: bagaimana meningkatkan produktivitas?) dan melupakan pertanyaan emansipatoris (seperti: mengapa struktur ini menindas? siapa yang diuntungkan?).

Habermas mengajarkan bahwa studi manajemen yang sejati harus berani memasuki ranah ketiga: membebaskan manusia dari alienasi yang diciptakan oleh struktur organisasi itu sendiri.

Etika Diskursus dan Demokrasi Organisasi

Salah satu konsep Habermas yang paling subur dalam literatur manajemen adalah etika diskursus (Diskursethik) dan gagasannya tentang ruang publik. Dalam konteks organisasi, para sarjana CMS menggunakan ide ini untuk mengkritik model pengambilan keputusan top-down yang otoriter.

Habermas membayangkan situasi ideal di mana norma-norma dapat diterima secara sah hanya jika semua pihak yang terkena dampak dapat menyetujuinya dalam sebuah diskursus yang bebas dari dominasi (herrschaftsfreier diskurs).

Meskipun sering dikritik sebagai utopis, konsep ini menjadi batu uji kritis bagi praktik manajemen. Ia memaksa kita untuk bertanya: seberapa demokratiskah perusahaan kita? Apakah suara buruh memiliki bobot yang sama dengan suara pemegang saham dalam dialog yang sesungguhnya?

Pemikirannya mendorong lahirnya riset-riset yang mengeksplorasi bagaimana teknologi komunikasi, misalnya, bisa digunakan untuk menciptakan proses rasionalisasi yang lebih demokratis di tempat kerja, bukan justru memperkuat pengawasan ala panoptikon.

Di Mondragon, koperasi terbesar di dunia yang berbasis di Spanyol, gagasan tentang manajemen strategis yang demokratis dan berpegang pada nilai-nilai emansipatoris dan solidaritas mendapatkan justifikasi teoretisnya dari kerangka berpikir Habermasian.

Kritik dan Warisan 

Tentu saja, pengaruh Habermas dalam CMS tidak lepas dari kritik. Kaum pasca-modernis seperti Lyotard mengecam proyek Habermas sebagai ”kisah besar” (grand narrative) lain yang naif, yang mengandaikan adanya konsensus universal yang justru menindas perbedaan dan disensus.

Kaum feminis juga mengkritik bahwa idealisasi ruang publiknya mungkin secara historis didominasi oleh perspektif laki-laki kulit putih heteroseksual.

Namun, para pemikir CMS kontemporer seperti Scherer menunjukkan bahwa pemikiran Habermas di masa senjanya terus berkembang. Karyanya tentang filsafat politik dan demokrasi deliberatif memberikan perspektif baru yang menjawab kritik-kritik lama, membuka jalan bagi riset CMS yang lebih kontekstual mengenai peran korporasi dalam tatanan global yang semakin terfragmentasi .

Habermas tak pernah duduk di ruang rapat dewan direksi, dan mungkin ia tak pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan. Namun, ia telah memberikan kepada para akademisi dan praktisi manajemen sebuah cermin untuk melihat wajah mereka sendiri.

Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah ruang kehidupan, bukan hanya sebuah sistem. Ia mengajarkan bahwa efisiensi tanpa etika adalah barbarisme, dan bahwa tujuan akhir dari sebuah organisasi, seperti halnya masyarakat, adalah menciptakan kondisi bagi setiap individu untuk dapat hidup otonom dan diakui martabatnya.

Dengan kepergiannya, kita kehilangan suara yang tak kenal lelah dalam membela nalar publik. Namun, di ruang-ruang kelas manajemen, dalam seminar-seminar yang membahas demokrasi industri, dan dalam hati para pemikir kritis yang masih percaya pada kekuatan komunikasi, Jürgen Habermas akan selalu dikenang.

Selamat jalan, profesor. Ide-idemu telah membebaskan pembelajar  manajemen dari tirani kata ”harus” dan membuka jalan menuju kata ”semoga”. Semoga....

Akuat Supriyanto
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya