Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Trump Berbaju Fir’aun

MINGGU, 15 MARET 2026 | 04:31 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DALAM tulisan sebelumnya kita sempat membahas fakta yang agak mengejutkan bahwa  Fir’aun ternyata bukan satu orang. Sepanjang sekitar tiga ribu tahun sejarah Mesir kuno, ada kira-kira 180 raja yang memakai gelar itu.

Jadi “Fir’aun” sebenarnya bukan nama pribadi, melainkan jabatan politik semacam presiden permanen, hanya saja dengan mahkota emas, piramida sebagai monumen nasional, dan tenaga kerja paksa sebagai program pembangunan.

Al-Qur’an menyebut kata “Fir’aun” sekitar tujuh puluh empat kali. Jumlah yang terlalu sering jika sekadar menceritakan sejarah Mesir kuno, tanpa menyadari betapa panjangnya sejarah itu, membentang selama tiga puluh abad. Bayangkan, tiga puluh abad. Artinya jelas: yang ingin ditunjukkan kitab suci bukan sekadar tokohnya, tetapi pola kekuasaan yang diwakilinya.


Kadang ia muncul dengan mahkota emas. Kadang dengan seragam militer. Dan kadang dalam dunia politik modern, ia tampil dengan jas mahal, podium kampanye, dan sorotan kamera televisi. Singkatnya: Fir’aun tidak selalu memakai mahkota. Kadang ia hanya mengganti bajunya, termasuk dalam arti metaforis.

Fir’aun adalah simbol kekuasaan yang berubah menjadi narsisme politik. Dalam kisah Musa yang kita baca dalam al-Qur’an, ia digambarkan sebagai penguasa yang tidak mampu menerima batas. Ketika Musa datang membawa pesan kebenaran, respon Fir’aun bukan refleksi, melainkan eskalasi. Kritik dianggap pemberontakan. Fakta dianggap ancaman. Kekuasaan harus dipertahankan dengan cara apa pun.

Pola ini ternyata tidak berhenti di zaman kuno. Seorang penulis bernama Richard Diamond mencoba membaca kembali kisah Fir’aun dalam konteks politik modern. Diamond adalah mantan eksekutif teknologi yang kini menulis tentang filsafat Yahudi, etika publik, dan kehidupan politik.

Dalam artikelnya di Times of Israel berjudul “This Week, as Pharaoh Reappears, It’s Worth Naming Trump’s Pathology,” ia mengajak pembaca melihat bahwa pola kepemimpinan Fir’aun bisa muncul kembali dalam bentuk yang lebih modern.

Diamond tidak sedang membuat tafsir agama atau alegori politik murahan. Ia hanya melakukan sesuatu yang sederhana: mengenali pola psikologi kekuasaan, khususnya terkait apa yang disebutnya patologi Trump. Maksudnya, penyakit psikologis yang menimpa Presiden AS Donald Trump.

Menurutnya, perilaku Trump selama bertahun-tahun menunjukkan struktur kepemimpinan yang sangat mirip dengan apa yang oleh psikologi disebut “narsisme patologis”.

Dalam percakapan sehari-hari, narsisme sering dianggap sekadar rasa percaya diri berlebihan. Kadang pula kita pakai untuk menyebut kawan yang gemar memamerkan foto-foto dirinya di media sosial.

Padahal, dalam kajian psikologi klasik, narsisme adalah struktur kepribadian yang tidak mampu menerima batas. Filsuf sosial Erich Fromm menyebut bentuk ekstremnya sebagai malignant narcissism yakni kebutuhan untuk selalu benar, ketidakmampuan menerima otoritas di luar diri, dan kecenderungan menghancurkan apa pun yang menghalangi dominasi.

Jika pola malignant narcissism ini dipakai membaca perilaku Trump, banyak tindakannya terlihat cukup konsisten. Ketika ia kalah dalam pemilu 2020, misalnya, hasil itu tidak diterimanya sebagai fakta politik, tetapi sebagai penghinaan yang harus dibatalkan.

Puluhan pengadilan di berbagai negara bagian menolak gugatan tim hukumnya karena tidak menemukan bukti kecurangan yang signifikan. Namun dalam pola kepemimpinan narsistik, kekalahan bukanlah fakta politik. Ia dianggap Trump dan timnya sebagai luka harga diri yang mesti dibalas sebagai cara penyembuhan.

Reaksi semacam ini dijelaskan oleh psikolog Heinz Kohut dengan istilah narcissistic rage. Ketika ego besar seorang narsisis terluka baik oleh kritik, kekalahan, atau oleh ejekan, reaksinya bukan introspeksi, melainkan serangan balik. Kemarahan menjadi mekanisme untuk memulihkan dominasi, yang sering didampratkan oleh Trump kepada lawan-lawan politiknya.

Itulah sebabnya dalam kehidupan politik Trump, banyak pihak tiba-tiba berubah menjadi musuh. Media yang kritis disebut sebagai enemy of the people (musuh rakyat). Hakim yang mengambil keputusan berbeda diserang secara terbuka. Bahkan pejabat pemerintah yang mencoba menjaga prosedur konstitusional pun sering menjadi sasaran serangannya.

Lingkaran pejabat di sekelilingnya juga memperlihatkan pola yang menarik. Banyak tokoh yang awalnya dipuji sebagai “the best people” kemudian berubah menjadi “total losers” ketika mereka tidak lagi memberikan dukungan penuh. Nama-nama seperti James Mattis, John Bolton, Rex Tillerson, hingga Mike Pence pernah mengalami perubahan posisi semacam ini.

Sosiolog Christopher Lasch pernah menjelaskan fenomena ini dengan tajam. Dalam budaya narsistik, orang lain tidak dipandang sebagai subjek yang merdeka. Mereka hanyalah cermin yang memantulkan kebesaran pemimpin. Selama cermin itu memantulkan citra yang menyenangkan, ia disebut loyal. Begitu pantulannya berubah, cermin itu dianggap rusak.

Pola yang hampir sama sebenarnya sudah digambarkan dalam kisah Fir’aun. Dalam Surah Al-Qashash ayat 38, Fir’aun berkata, “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” Kalimat ini bukan sekadar klaim teologis. Ia adalah ekspresi psikologi kekuasaan: tidak ada otoritas di luar diri pemimpin.

Al-Qur’an juga memperlihatkan bagaimana elite Mesir berfungsi dalam sistem ini. Para pembesar kerajaan yang disebut al-mala’, tidak menjadi penyeimbang kekuasaan, tetapi justru penguat dominasi Fir’aun.

Ketika Musa membawa pesan kebenaran, mereka tidak menilai substansinya. Mereka malah memprovokasi Fir’aun agar bertindak keras. Al-Qur’an mengabadikan dialog mereka, “Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini dan meninggalkan engkau serta tuhan-tuhanmu?” (Qs. Al-A‘raf: 127)

Elite semacam ini tidak menasihati raja dengan objektif. Mereka hanya menjaga struktur kekuasaan yang sudah menguntungkan mereka. Akibatnya, sistem politik berubah menjadi mesin yang tidak mampu belajar. Kesalahan tidak pernah diakui. Kebijakan tidak diperbaiki. Konflik hanya terus meningkat.

Di sinilah bahaya kepemimpinan narsistik sebenarnya. Bahaya itu bukan hanya pada keputusan yang diambil, tetapi pada norma yang diciptakan. Pemimpin seperti ini mengajarkan bahwa mengakui kesalahan adalah kelemahan. Bahwa batas adalah penghinaan. Bahwa dominasi adalah kepemimpinan.

Itulah sebabnya al-Qur’an mengulang kisah Fir’aun berkali-kali. Bukan karena sejarah Mesir terlalu penting. Kisah itu diulang karena ia adalah pola. Pola kekuasaan yang muncul kembali di berbagai zaman.

Kadang dengan mahkota emas.
Kadang dengan seragam militer.
Kadang dengan podium kampanye dan sorotan kamera televisi.

Tetapi psikologinya tetap sama.

Dan sejarah menunjukkan bahwa pola itu hampir selalu berakhir dengan cara yang sama. Fir’aun dulu memiliki piramida, tentara, dan kekuasaan yang tampak tak tergoyahkan. Namun pada akhirnya yang tersisa hanyalah tubuhnya di museum, sebuah monumen sunyi tentang kesombongan kekuasaan.

Barangkali itulah cara sejarah memberi peringatan bahwa siapa pun yang terlalu lama percaya dirinya tak terbatas, biasanya sedang berjalan menuju lautnya sendiri.

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

IKA BEM Nusantara Ajak Elemen Bangsa Dukung Program Ketahanan Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:56

Bergerak Bersama Menuju Sila Kelima Pancasila

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:30

TNI Tembus Medan Terjal Salurkan 2 Ton Logistik di Kabupaten Puncak

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:09

Buka Turnamen Tenis Beregu

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:42

531 Atlet Taekwondo Terbaik Asia Siap Bertarung Demi Kehormatan Negara

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:24

Prabowo Harus Rombak Kabinet Buntut Tingkat Kepuasan Publik Melorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:04

Zanzabella Singgung "Si Ono" dan Rekaman CCTV: Pertengkaran Pasti Ada Sebabnya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:35

Pelaporan ESG Tahun 2026 Indonesia

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:05

Ustaz Novel: LGBT Bahaya Laten dengan Daya Rusak Luar Biasa

Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:39

Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Keluarga Cemas Banyak Penumpang Tak Masuk Manifes

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:53

Selengkapnya