Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Reset Amerika

JUMAT, 13 MARET 2026 | 04:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

JIKA ramalan Prof. Jiang Xueqin benar bahwa Amerika suatu hari akan kalah dalam konflik kronis yang berpuncak pada perang besar yang sedang berlangsung melawan Iran, pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa menang atau siapa kalah. Pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah: setelah itu, apa yang terjadi?

Jawaban Jiang cukup mengejutkan. Ia tidak berbicara tentang kehancuran Amerika, apalagi runtuhnya negara itu seperti Uni Soviet. Ia justru berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi namun lebih mendalam: reset Amerika. Tapi ini agaknya berbeda dari “Reset Indonesia” gagasan rekan saya Farid Gaban dkk.

Dalam pandangan Jian, kekuatan global tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, berpindah bentuk, dan berpindah pusat. Dunia tidak sedang menuju kekacauan, melainkan sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai structural reset, perubahan besar dalam cara kekuasaan global diatur.


Untuk memahami maksudnya, Jiang mengajak kita mundur sejenak ke tahun 1991, ketika Uni Soviet runtuh. Dunia tiba-tiba menjadi unipolar. Amerika Serikat menjadi satu-satunya kekuatan besar tanpa pesaing serius. Dari situ lahirlah apa yang disebut “New World Order”.

Tatanan dunia baru itu dibangun di atas perdagangan global. Namun karena Amerika menguasai dolar sebagai mata uang cadangan dunia, mereka juga secara tidak langsung menguasai sesuatu yang jauh lebih halus: kemampuan menentukan harga.
Temukan lebih banyak
Lobster
LObster

“Pricing,” kata Jiang, bukan sekadar harga barang di pasar. Ia adalah cara menentukan nilai seluruh aktivitas ekonomi dunia.

Dari sinilah terbentuk sebuah hierarki global yang tidak tertulis tetapi sangat nyata. Di lapisan paling bawah ada sumber daya alam. Di atasnya ada manufaktur. Di atas manufaktur ada pengetahuan dan teknologi. Dan di puncaknya ada keuangan.

Dalam pembagian kerja global itu, Jiang secara acak membagi Rusia, Afrika, dan Amerika Selatan sebagai penyedia sumber daya. China menjadi pabrik dunia. Eropa menjadi pusat pengetahuan dan teknologi. Dan Amerika berada di puncak piramida sebagai pusat keuangan global.

Secara teori, sistem ini tampak indah seperti poster ekonomi liberal. Semua negara bekerja sesuai keunggulannya, perdagangan berkembang, dan dunia tampak semakin makmur. Masalahnya, seperti banyak sistem yang tampak sempurna di papan tulis, ia menyimpan bom waktu di dalamnya.

Ketika sebuah negara terlalu fokus pada sektor finansial, kata Jiang, ekonominya perlahan berubah menjadi ekonomi spekulatif. Uang tidak lagi digunakan untuk menghasilkan barang atau teknologi, tetapi untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

Dengan kata lain, ekonomi berubah sedikit demi sedikit menjadi kasino raksasa. Gejalanya terlihat jelas dalam krisis finansial 2008, ketika sistem keuangan Amerika hampir runtuh. Saat itu dunia berada di tepi jurang ekonomi global.

Menurut Jiang, sistem itu diselamatkan oleh sesuatu yang jarang dibicarakan secara terang-terangan: keputusan China untuk menggelontorkan investasi raksasa dalam pembangunan infrastruktur.

Bandara baru, kota baru, rel kereta cepat, pelabuhan raksasa, semuanya dibangun dalam skala yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya. Investasi besar itu membantu menjaga permintaan global tetap hidup, sehingga ekonomi dunia tidak ikut runtuh.

Tetapi langkah itu juga membuat China menanggung utang besar. Setelah itu, Beijing mulai mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya sangat politis: jika kami membantu menyelamatkan ekonomi dunia, maka kami juga berhak duduk di meja kekuasaan global.

China ingin menjual teknologi mereka, bersaing dalam pasar global, dan menjadi kekuatan setara dengan Amerika. Dan tampaknya itu berhasil, terbukti mulai dari produk-produk otomotif China hingga akal imitasi alias AI.

Jawaban Washington, menurut Jiang, pada dasarnya adalah: tidak. Dari sinilah lahir perang dagang Amerika-China pada era Donald Trump. Persaingan itu kemudian meluas menjadi konflik teknologi, geopolitik, dan ekonomi global.

Lalu datang peristiwa lain yang mengguncang sistem itu: perang Rusia-Ukraina pada 2022. Dalam perspektif Jiang, perang itu bukan sekadar konflik wilayah. Itu adalah pemberontakan terhadap hierarki ekonomi global.

Dalam konteks ini, perang terbaru antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dapat dilihat sebagai salah satu katalis yang mempercepat proses reset tersebut.

Konflik meletus dahsyat di akhir Februari 2026. AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Ini segera memicu serangkaian serangan balasan dari Iran, ketegangan regional, dan gangguan besar terhadap energi serta perdagangan global.

Jalur energi vital seperti Selat Hormuz terancam, pasar energi dunia terguncang, dan jaringan aliansi di Timur Tengah ikut bergetar.

Dalam perspektif teori Jiang, perang semacam ini bukan sekadar konflik regional, melainkan ujian terhadap sistem global yang selama ini menopang dominasi Amerika, mulai dari stabilitas dolar hingga keamanan jalur energi dunia.

Jika perang itu menguras sumber daya Amerika atau mempercepat munculnya sistem ekonomi alternatif, maka konflik tersebut justru berperan sebagai mekanisme sejarah yang mempercepat proses “reset” kekuatan global yang sedang berlangsung.

AS ingin tetap menguasai, bahkan merebut, sumber daya di negara-negara lain. Jika sumber daya adalah fondasi seluruh sistem, maka siapa yang menguasai sumber daya memiliki kartu tawar yang besar. Tanpa energi, tanpa mineral, tanpa pangan, tidak ada manufaktur, tidak ada teknologi, dan tentu saja tidak ada keuangan.

Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang bagian besar dari pasokan gandum dunia. Ketika konflik meletus, stabilitas pangan global ikut terguncang.

Dari titik ini Jiang melihat sesuatu yang lebih besar sedang terjadi: sistem global yang dibangun setelah Perang Dingin mulai retak.

Amerika berusaha mempertahankan sistem lama yakni dolar, jaringan finansial global, dan dominasi ekonomi. Sementara kekuatan lain seperti China dan Rusia mencoba membangun sistem alternatif.

Di sinilah muncul gagasan seperti BRICS, jalur perdagangan baru, dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar.

Semua itu bagi Jiang bukan tanda kekacauan dunia. Ia adalah tanda bahwa permainan lama sedang di-reset. Dan di tengah reset itu, Amerika sendiri pada akhirnya harus ikut berubah. Bukan hilang, tetapi beradaptasi.

Jika kembali ke Ibnu Khaldun, situasi ini terasa seperti bab klasik dalam siklus sejarah. Ketika sebuah kekuasaan terlalu lama berada di puncak, ia sering lupa bahwa sistem yang ia bangun juga bisa berubah.

Kemewahan ekonomi, dominasi finansial, dan rasa tak tergantikan sering membuat sebuah imperium sulit melihat perubahan yang sedang tumbuh di pinggiran sistemnya.

Tetapi sejarah selalu bergerak seperti sungai besar. Ia bisa berubah arah perlahan tanpa suara, sampai suatu hari orang baru sadar bahwa alirannya sudah berbeda.

Mungkin itulah yang dimaksud Jiang dengan reset Amerika. Bukan akhir dari Amerika, tetapi akhir dari satu cara Amerika memimpin dunia.

Sejarah tidak pernah benar-benar menghapus kekuatan besar. Ia hanya memaksa mereka belajar lagi bagaimana hidup dalam dunia yang sudah berubah.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya