Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Publika

APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

SELASA, 10 MARET 2026 | 04:42 WIB

DI awal menjabat, publik langsung menggelarinya, menteri keuangan koboi. Pernyataan beliau soal utang kereta cepat Whoosh tidak gunakan APBN, itu membuat rakyat tepuk tangan. 

Namun, belakangan ternyata utang Whoosh dibayar dengan pajak rakyat, kinerjanya mulai disorot. Makin ke sini, ia makin ke sana. 

Enam bulan terakhir, perhatian publik mulai tertuju pada Purbaya Yudhi Sadewa. Ketika ia menggantikan Sri Mulyani Indrawati, dukungan publik sempat mengalir deras. 


Harapannya sederhana tetapi berat, menjaga disiplin fiskal, menenangkan pasar, dan membuat APBN kembali terlihat gagah seperti dompet tanggal satu.

Masalahnya, ekonomi tidak pernah tunduk pada harapan. Ia tunduk pada angka. Angka-angka belakangan ini mulai membuat sebagian ekonom mengernyit.

Kinerja fiskal pemerintah dalam enam bulan terakhir mendapat sorotan. Beberapa indikator ekonomi dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa kuartal terakhir. Stabil memang, tetapi tidak memberikan akselerasi berarti seperti yang diharapkan pemerintah.

Nuan bayangkan mobil yang mesinnya hidup, bensin ada, pengemudi semangat, tetapi pedal gas seperti tidak terlalu diinjak. Jalan terus, tetapi tidak benar-benar ngebut.

Lampu kuning juga datang dari lembaga pemeringkat internasional. Fitch Ratings merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Sementara Moody's Investors Service juga menyoroti sejumlah risiko fiskal yang muncul belakangan.

Dalam dunia keuangan global, perubahan outlook seperti ini ibarat dokter yang berkata kepada pasien, “Kondisinya masih stabil, tetapi tolong kurangi gorengan.”

Program prioritas pemerintah juga ikut disorot. Salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda utama pemerintah. 

Program ini dianggap penting untuk pembangunan sumber daya manusia, tetapi implementasinya menghadapi tantangan dari sisi anggaran hingga distribusi.

Dalam filsafat APBN, program sosial besar sering menghadapi dilema klasik. Niatnya mulia, tetapi biayanya bisa berkembang seperti bola salju yang turun dari gunung.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai sejumlah indikator menunjukkan tekanan pada pengelolaan fiskal. 

Disiplin fiskal mulai melemah yang terlihat dari potensi pelebaran defisit anggaran. Jika harga minyak dunia meningkat, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,3 persen sampai 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Padahal selama ini Indonesia berusaha menjaga defisit tetap di bawah 3% PDB, batas psikologis yang penting bagi kepercayaan pasar.

Bhima juga mengingatkan, fiscal buffer atau cadangan fiskal semakin menurun. Dalam bahasa sederhana, payung negara masih ada, tetapi kainnya mulai menipis.

Masalah lain muncul dari transparansi anggaran. Dokumen APBN 2026 disebut terlambat dipublikasikan kepada publik. Bagi investor global, keterlambatan seperti ini bisa menimbulkan pertanyaan tentang keterbukaan dan akurasi data fiskal.

Di tingkat daerah, perubahan kebijakan penggunaan dana desa juga disorot. Sekitar 58% dana desa dialihkan ke program Koperasi Desa Merah Putih, yang dinilai berpotensi menimbulkan distorsi fiskal dan mengganggu prioritas pembangunan daerah.

Belum selesai dengan persoalan domestik, badai besar datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah konflik antara Iran melawan koalisi Israel dan United States mengganggu produksi energi kawasan tersebut.

Dampaknya langsung terasa di pasar minyak dunia. Mengutip Reuters, pada Rabu 4 Maret 2026 harga minyak mentah Brent naik 1,11 dolar AS atau 1,4 persen menjadi 82,53 dolar AS per barel, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah ujian fiskal klasik. Ahli strategi makro dari Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, bahkan menyarankan pemerintah mengaktifkan mekanisme penyesuaian subsidi jika Brent menembus 90 per dolar AS barel selama lebih dari lima hari perdagangan berturut-turut. Jika tidak diantisipasi, tekanan inflasi bisa langsung terasa di masyarakat.

Bhima juga menyoroti pembayaran kompensasi energi kepada Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara yang disebut belum sepenuhnya dilakukan secara rutin setiap bulan. Jika arus kas BUMN energi ini tertekan, bayang-bayang kenaikan harga BBM bisa muncul kapan saja.

Pada akhirnya, kritik paling tajam datang dari komunikasi kebijakan. Bhima menilai pemerintah terlalu optimistis dalam menyampaikan janji kebijakan. Ia menyebut fenomena ini sebagai over promised yang berpotensi menurunkan kepercayaan pasar.

Dalam filsafat keuangan modern, reputasi fiskal negara itu seperti jembatan gantung. Selama terlihat kokoh, semua orang berani melintas. 

Namun begitu terdengar bunyi “krek” kecil di salah satu kabelnya, semua langkah mendadak menjadi hati-hati. Sekarang, sebagian ekonom mulai mendengar bunyi kecil itu dari arah APBN.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya