Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas Dunia Ambles, Tertekan Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi

JUMAT, 06 MARET 2026 | 07:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas gagal mempertahankan momentum penguatannya. Setelah sempat menyentuh level tertinggi di awal sesi, sang logam mulia berbalik arah ke zona merah akibat kombinasi penguatan Dolar AS dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot ditutup merosot 1,2 persen ke level 5.076,59 Dolar AS per ons pada perdagangan Kamis 5 Maret 2026 atau Jumat WIB. Padahal, di awal perdagangan, harga sempat meroket hingga 5.194,59 Dolar AS.

Penurunan serupa juga terjadi pada emas berjangka AS kontrak April yang menyusut 1,1 persen ke posisi 5.078,70 Dolar AS. 


Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai kecemasan pasar terhadap inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak menjadi faktor penekan utama.

"Pasar melihat kemungkinan kenaikan harga minyak yang bisa memicu inflasi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi biasanya bukan kabar baik bagi emas," ujarnya. 

Meskipun emas sering menjadi aset aman (safe haven) saat terjadi konflik, seperti eskalasi militer hari keenam antara AS-Israel melawan Iran, kondisi pasar saat ini menciptakan tekanan ganda seperti; dominasi Dolar AS di mana indeks Dolar (DXY) naik 0,5 persen, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing. Kemudian lonjakan Yield Obligasi, di mana imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mencapai titik tertinggi dalam tiga minggu, meningkatkan opportunity cost bagi investor untuk memegang aset tanpa bunga seperti emas. 

Walau tertekan dalam jangka pendek, Bart Melek berpendapat fundamental emas masih solid. Potensi pembengkakan defisit anggaran AS serta ketidakpastian global yang berlarut tetap menjadi pilar penyangga harga emas di masa depan.

Logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot melorot 1,8 persen menjadi 81,91 Dolar AS per ons. Platinum melemah 1,1 persen ke level 2.125,10, sementara paladium anjlok 2,4 persen menjadi 1.634,15 Dolar AS per ons.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya