Berita

Presiden AS, Donald Trump. (Foto: Isitmewa)

Dunia

Serangan Trump ke Iran Retakkan Integritas Demokrasi Amerika

MINGGU, 01 MARET 2026 | 10:17 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Permusuhan antara Washington dan Teheran bukanlah cerita baru. Sejak krisis sandera 1979 hingga tarik-ulur perjanjian nuklir, ketegangan Amerika Serikat dan Iran telah menjadi bagian dari lanskap geopolitik Timur Tengah. 

Namun menurut Co-founder Imparsial, PBHI dan SETARA Institute sekaligus Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik, situasi kali ini berbeda.

Ia menyoroti langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya mengklaim telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran melalui serangan militer. Namun, alasan yang sama kembali digunakan untuk membenarkan agresi terbaru.


“Trump sebelumnya sudah mengebom dan mengklaim keberhasilan dalam menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Tapi hari ini alasan yang sama didaur ulang untuk membenarkan serangan baru,” ujarnya lewat akun X, Minggu, 1 Maret 2026.

Rachland mempertanyakan konsistensi klaim tersebut. Jika benar fasilitas nuklir Iran sudah dihancurkan, maka tidak ada alasan untuk menyerang kembali. Sebaliknya, jika fasilitas itu ternyata masih berdiri, maka klaim keberhasilan sebelumnya patut dipertanyakan.

“Jika klaim penghancuran itu benar, buat apa sekarang menyerang lagi? Sebaliknya, jika ternyata fasilitas nuklir Iran masih tegak, maka klaim keberhasilan tersebut cuma bualan. Dua-duanya merusak kredibilitas,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan apakah serangan tersebut merupakan hasil keputusan strategis yang terukur atau sekadar manifestasi ego personal sang presiden. Dalam pidatonya, Trump menyatakan hanya dirinya presiden AS yang berani menyerang Iran.

“Itu bukan bahasa institusi. Ia menempatkan keputusan perang sebagai ekspresi keberanian individual, bukan hasil pertimbangan kolektif negara,” kata Rachland.

Padahal dalam demokrasi konstitusional, lanjutnya, perang seharusnya lahir dari proses konsultasi yang melibatkan parlemen. Di Amerika Serikat, kewenangan menyatakan perang berada di tangan Kongres, sementara presiden sebagai panglima tertinggi bertugas mengomandoi pelaksanaannya.

Menurut Rachland, ketika Trump menekankan keberanian personalnya dalam memerintahkan agresi terhadap Iran, ia sedang menggeser pusat gravitasi kekuasaan dari institusi negara kepada dirinya sendiri. Pergeseran ini, katanya, tidak lepas dari risiko serius.

Ia juga menyinggung posisi Israel dalam eskalasi tersebut. Israel selama ini dikenal sebagai sekutu utama Amerika Serikat. Namun dalam konteks perang di Gaza, Israel dituding melakukan extermination dan kejahatan perang. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan disebut sebagai buronan International Criminal Court.

“Dalam konteks itu, dukungan Trump yang tanpa jarak niscaya memberi kesan bahwa Amerika bukan sekadar sekutu Israel, melainkan pembela Israel tanpa syarat,” ujarnya. Secara formal mungkin tidak, tetapi dalam persepsi global, kata dia, Amerika tampak seperti kepanjangan tangan Israel.

Rachland menilai, dalam lanskap politik Amerika yang sangat terpolarisasi, serangan ke Iran juga memiliki fungsi politik domestik. Trump dinilai ingin menunjukkan ketegasan dan membangun citra kepemimpinan yang tidak gentar demi konsolidasi politik dalam negeri.

“Kompleks ego-narsistik di sini bukan lagi sekadar diagnosis psikologis — ia adalah variabel politik,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa Amerika selama ini mengklaim diri sebagai penjaga tatanan dunia berbasis aturan. Namun ketika perang dipresentasikan sebagai panggung keberanian individual, legitimasi bergeser dari hukum menuju kehendak politik personal.

“Bahaya terbesarnya bukan pertama-tama serangan bom atau kepungan drone. Bahaya terbesarnya adalah preseden: bahwa perang dapat dibenarkan oleh kehendak satu orang, dengan kepentingan panggung politik domestik,” katanya.

Menurut Rachland, ketika Iran dihujani bom oleh Amerika dan Israel, yang retak pertama-tama bukanlah Teheran, melainkan integritas demokrasi Amerika sendiri.

“Bom-bom itu mungkin jatuh di Timur Tengah. Tetapi sumber penyakitnya ada di dalam jantung sistem konstitusional Amerika,” pungkasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya