Berita

Gedung Mahkamah Konstitusi. (RMOL)

Politik

Tak Ingin Polemik 2024 Terulang, Syarat Capres Digugat ke MK

JUMAT, 27 FEBRUARI 2026 | 12:02 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ketentuan syarat pencalonan presiden dan wakil presiden dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, khususnya Pasal 169, digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Permohonan tersebut diajukan dua advokat, Raden Nuh dan Dian Amalia, dengan nomor perkara 81/PUU-XXIV/2026.

Dalam permohonannya, para pemohon meminta agar pencalonan presiden dan/atau wakil presiden wajib bebas dari konflik kepentingan yang bersumber dari hubungan keluarga sedarah maupun semenda dengan presiden dan/atau wakil presiden yang tengah menjabat dalam satu periode kekuasaan. Mereka menginginkan adanya larangan bagi keluarga inti presiden atau wakil presiden yang sedang berkuasa untuk mencalonkan diri.


Pengamat politik Adi Prayitno menilai gugatan tersebut lahir dari kekhawatiran adanya celah nepotisme dalam aturan yang berlaku saat ini.

“Kalau mau jujur, Undang-Undang Pemilu tahun 2017 sebenarnya begitu banyak syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh capres ataupun cawapres, misalnya warga negara Indonesia, tidak terlibat dalam organisasi terlarang, sehat jasmani dan rohani," ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Jumat, 27 Februari 2026. 

"Tapi di situ memang ada satu poin yang disebutkan bahwa suami atau istri calon presiden dan atau suami atau istri calon wakil presiden adalah warga negara Indonesia,” sambungnya.

Menurutnya, poin itulah yang oleh para penggugat dinilai berpotensi membuka celah praktik nepotisme dalam proses pencalonan.

“Sepertinya inilah yang kemudian menurut penggugat berpotensi akan membuka celah praktik nepotisme dalam proses pencalonan,” lanjutnya.

Adi menjelaskan, kedua pemohon meminta agar MK mengabulkan permohonan tersebut sepenuhnya dan melarang keluarga presiden maupun wakil presiden mencalonkan diri selama masih dalam satu periode kekuasaan. Ia menilai langkah hukum ke MK merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. 

“Mahkamah Konstitusi adalah tempat untuk menyampaikan sekaligus memperjuangkan keinginan yang dimiliki warga negara,” katanya.

Adi mencontohkan, ketentuan ambang batas pencalonan presiden sebelumnya juga telah digugat ke MK dan pada akhirnya dihapus. Karena itu, menurutnya, jalur konstitusional menjadi instrumen yang sah untuk mengoreksi undang-undang.

“Bagi saya, Raden Nuh dan Dian Amalia sepertinya tidak mau terulang peristiwa yang terjadi di 2024, di mana ada keluarga presiden yang kemudian mencalonkan diri dan terbukti hingga saat ini menimbulkan satu kontroversi yang tidak berkesudahan,” ujarnya.

Putusan yang dimaksud adalah keputusan MK 90/PUU/XXI/2023 yang disebut banyak pihak memuluskan langkah Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.

Ia menegaskan, MK kerap menjadi jalan bagi aktivis dan kelompok pejuang demokrasi untuk memperjuangkan sistem politik yang sehat, berkomitmen pada kebangsaan, dan jauh dari praktik nepotisme.

“Oleh karena itu MK selalu menjadi jalan dan instrumen bagi aktivis dan kelompok demokrasi untuk memperjuangkan nasib demokrasi yang sehat, komitmen kebangsaan yang jauh dari unsur-unsur nepotisme, yang jauh dari praktik-praktik yang bisa melahirkan kompetisi yang tidak seimbang,” pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya