Berita

Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30)

Publika

Nu’aiman, Pejuang Badar yang Membuat Rasulullah Tertawa

JUMAT, 27 FEBRUARI 2026 | 02:20 WIB

SERING kita membayangkan, kehidupan Rasulullah SAW dan sahabat itu sangat serius. Seperti tidak ada bercandanya. 

Ternyata, bayangkan itu salah. Kehidupan Nabi mirip seperti kehidupan kita juga, pasti ada yang suka ngebanyol, ngelabak, atau membuat suasana penuh humor. Siapakah sahabat nabi itu? 

Madinah abad ke-7 itu seperti markas besar revolusi. Wahyu turun, perang meletus, strategi disusun, munafik bikin drama. Suasananya tegang bukan main. Namun di tengah atmosfer serius level sidang kabinet darurat itu, muncul satu manusia dengan energi “stand-up comedy syar’i”. Namanya Nu'aiman bin Amr.


Ia bukan buzzer, bukan konten kreator receh. Ia veteran Badar. Ikut Bai’at Aqabah Kedua bersama 70-73 Anshar sebelum hijrah. Artinya, ia tanda tangan kontrak iman ketika Islam belum punya kantor pusat. Ia bertempur di Perang Badar (2 H), Uhud, Khandaq, dan hampir semua pertempuran besar. Jangan bayangkan ia cuma tukang ketawa. Pedangnya asli, bukan properti.

Namun yang membuat namanya abadi bukan tebasan pedang, melainkan tebasan humornya.

Konon Rasulullah SAW sampai tertawa lepas karena ulahnya, sampai terlihat gigi geraham beliau. Itu pencapaian yang kalau hari ini mungkin setara membuat presiden tertawa di tengah rapat krisis. 

Ada riwayat yang memaknai, ia akan masuk surga sambil tertawa karena sering membuat Nabi tertawa. Nuan bayangkan, tiket surga lewat jalur “membahagiakan Rasul”.

Kisah pertama, madu dan minyak samin. Seorang sahabat membawa hadiah ke rumah Nabi. Nu’aiman ikut makan dengan muka polos seperti bayi baru bangun tidur. 

Ketika pedagang datang menagih, ia dengan santai menunjuk Nabi, “Kami makan bersama.” Itu level percaya diri yang kalau dipakai hari ini bisa bikin grup WhatsApp keluarga meledak. Rasulullah SAW tidak marah. Beliau tertawa dan membayar. Cinta itu memang sabar, bahkan terhadap sahabat superusil.

Kisah kedua lebih absurd lagi. Dalam perjalanan, Nu’aiman “menjual” temannya sebagai budak ke suatu kabilah. Temannya protes, pembeli serius, situasi makin kacau. Akhirnya ditebus. Ketika cerita itu sampai ke Nabi, beliau tertawa setiap kali mengingatnya. 

Ummu Salamah RA menyebut kisah itu jadi bahan canda berbulan-bulan. Ini bukan prank jahat. Ini prank penuh persahabatan, yang akhirnya menjadi legenda.

Namun hidupnya bukan cuma komedi. Ia pernah tergelincir dalam perkara khamar sebelum pengharaman tegas berlaku. Ia dibawa untuk dihukum. Ada sahabat yang kesal dan mengutuknya. 

Rasulullah SAW langsung menegur, “Jangan kalian mencelanya. Demi Allah, aku tahu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” 

Riwayat ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari. Jadi, bahkan ketika salah, hatinya tetap bersih. Itu bukan pembelaan buta. Itu pengakuan atas cinta yang tulus.

Nu’aiman juga terhubung dengan keluarga besar sahabat melalui pernikahan. Ia hidup panjang hingga sekitar tahun 60 H pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan menurut sebagian riwayat. Usianya tidak pasti, tetapi cukup lama untuk membuktikan bahwa Islam bukan agama yang alergi humor.

Coba renungkan. Rasulullah SAW memikul beban umat, menerima wahyu, memimpin negara, menghadapi ancaman eksternal dan internal. Lalu datang Nu’aiman dengan kelakuan jahil level dewa, membuat beliau tertawa. Itu bukan sekadar lucu. Itu terapi jiwa.

Humor Nu’aiman tidak pernah menghina. Tidak merendahkan. Tidak menusuk harga diri orang. Ia bercanda dengan cinta, bukan dengan racun. Itu beda tipis tapi dampaknya seluas samudra. Di zaman sekarang, satu meme bisa memicu perang komentar tujuh turunan. Nu’aiman justru menyatukan suasana.

Ia pejuang di Badar, tetapi juga “komedian resmi” Madinah. Ia pernah dihukum, tetapi dibela karena imannya. Ia jahil, tetapi dicintai. Kombinasi seperti ini jarang sekali muncul dalam sejarah.

Mungkin pesan terbesarnya sederhana. Kesalehan tidak identik dengan wajah tegang. Iman bisa tersenyum. Surga tidak hanya diisi tangisan taubat, tetapi juga tawa yang jujur.

Ente bayangkan nanti di akhirat, ketika manusia tegang menunggu hisab, tiba-tiba terdengar tawa ringan dari seseorang yang masuk surga sambil tersenyum. Bisa jadi itu Nu’aiman. Kita yang membaca kisahnya hari ini, minimal sudah senyam-senyum, sambil berpikir, ternyata agama ini indah, hangat, dan penuh rahmat.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

Nyepi di Tengah Ramadan Perkuat Persaudaraan Lintas Iman

Kamis, 19 Maret 2026 | 10:01

Bedah Trailer 'Spider-Man: Brand New Day', Mengungkap Daftar Pemain dan Kandidat Musuh Utama

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:49

Volume Kendaraan Tol Trans Jawa Naik Signifikan

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:47

Kepadatan Tol Jakarta-Cikampek Berlanjut hingga Pagi

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:20

TNI Disarankan Ambil Alih Penanganan Kasus Andrie Yunus dari Kepolisian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:14

Inspirasi Ucapan Hari Raya Nyepi 2026 yang Penuh Kedamaian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:12

Dokter Tifa Bantah Rumor Temui Jokowi

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:47

Dampak Perang Iran, Bank Sentral UEA Gelontorkan Paket Penopang Likuiditas

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:46

Dugaan Perintah Atasan di Balik Teror Aktivis Harus Diungkap

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:25

Mudik Lebaran Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:08

Selengkapnya