Berita

Ilustrasi

Publika

Meneguhkan Ekonomi Rakyat dari Desa

SABTU, 21 FEBRUARI 2026 | 16:10 WIB

DESA adalah akar kehidupan ekonomi Indonesia. Dari sawah, ladang, pasar kecil, hingga warung sederhana, denyut ekonomi rakyat sesungguhnya berawal dari sana. 

Karena itu, ketika pemerintah mendorong penguatan koperasi desa, langkah tersebut bukan sekadar program administratif, melainkan ikhtiar strategis membangun kemandirian dari bawah.

Belakangan, publik ramai membicarakan pernyataan pejabat pemerintah mengenai pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) dan hubungannya dengan ritel modern. Perbincangan itu memunculkan pro dan kontra, seolah-olah koperasi harus “berhadapan” dengan minimarket besar. Padahal, semangat dasarnya adalah memberi ruang tumbuh bagi ekonomi lokal.


Koperasi desa sejatinya bukan pesaing siapa pun. Ia adalah rumah bersama warga. Di sanalah petani menitip hasil panen, ibu-ibu membeli kebutuhan pokok, dan pemuda desa belajar berwirausaha. Koperasi hadir dengan semangat gotong royong — nilai asli bangsa yang telah hidup jauh sebelum ritel modern berdiri.

Arah Kebijakan Pemerintah yang Berpihak

Dalam sejumlah pernyataan resmi, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa pemerintah tidak berniat menutup atau mematikan ritel modern. Klarifikasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Yang disampaikan pemerintah lebih pada pengaturan ekspansi gerai baru di wilayah desa, supaya koperasi yang sedang tumbuh tidak langsung tersisih oleh kekuatan modal besar. Kebijakan ini adalah bentuk afirmasi, keberpihakan sementara, agar pelaku ekonomi kecil punya kesempatan berkembang.

Dengan kata lain, koperasi desa ingin diberi “napas” terlebih dahulu. Ketika fondasinya kuat, stok barang rapi, harga bersaing, manajemen profesional, barulah persaingan berlangsung sehat. Prinsipnya bukan melarang, melainkan menyeimbangkan.

Langkah ini juga selaras dengan visi pemerataan pembangunan. Desa tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk kota. Desa harus menjadi produsen, pengelola, sekaligus penikmat keuntungan ekonominya sendiri.

Kopdes dan Ritel Modern: Bukan Lawan, Tapi Ruang Tumbuh

Kehadiran Indomaret dan Alfamart selama ini memang membantu distribusi barang dan membuka lapangan kerja. Kontribusi itu tidak bisa diabaikan. Namun di desa-desa kecil, dominasi ritel besar kadang membuat usaha lokal sulit bernapas.

Di sinilah koperasi mengambil peran berbeda. Ia tidak semata mengejar laba, tetapi juga kesejahteraan anggota. Keuntungan kembali ke warga dalam bentuk sisa hasil usaha, modal bergulir, dan harga yang lebih ramah bagi masyarakat sekitar.

Jika dikelola profesional, koperasi desa bahkan bisa meniru sistem minimarket modern: rak tertata, pencatatan digital, pelayanan cepat. Bedanya, kepemilikannya kolektif. Setiap warga adalah pemilik, bukan sekadar pembeli.

Membangun Optimisme Ekonomi Gotong Royong

Karena itu, dukungan terhadap koperasi desa bukan hanya dukungan pada lembaga, tetapi pada masa depan ekonomi rakyat. Ketika koperasi kuat, uang berputar di desa, lapangan kerja tercipta di kampung sendiri, dan urbanisasi bisa ditekan.

Tantangannya tentu ada: tata kelola harus transparan, pengurus harus jujur, dan pelayanan harus profesional. Tanpa itu, koperasi sulit dipercaya. Maka pembinaan, pelatihan, dan pendampingan menjadi kunci keberhasilan program Kopdes.

Pada akhirnya, pilihan kita sederhana: membiarkan desa hanya menjadi konsumen, atau mendorongnya menjadi pelaku utama ekonomi. Mendukung koperasi desa berarti memilih kemandirian, gotong royong, dan keadilan sosial. Dari desa yang berdaya, Indonesia yang kuat akan lahir.

Oleh: Ariasa Hadibroto Supit

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Iran Ancam Gunakan Segala Cara untuk Hadapi Agresi AS

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:01

Serangan Israel Luluhlantakkan Gudang Obat Rumah Sakit Gaza

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:25

GP Al-Washliyah Dukung Kapolri Jadikan Semangat Hoegeng Budaya Kerja Polri

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:12

Kemensos Terbitkan Kartu Penyandang Disabilitas Virtual

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:04

PM Thailand Dijadwalkan Kunjungi Indonesia pada 3-4 Agustus

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:45

Bea Cukai Bongkar Dua Kontainer Berisi 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:43

BRI Peduli Bantu Peternak Sapi Perah Malang Naik Kelas Lewat Klaster Unggulan

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:33

AS Terapkan Deposit Visa untuk 50 Negara hingga Rp360 Juta

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:22

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Berawal dari Keresahan, Rabundo Tembus Pasar Nasional Berkat Pendampingan BRI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:03

Selengkapnya