Berita

Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. (Foto: Istimewa)

Publika

Prabowo-Anies dalam Negative Correlation

SENIN, 09 FEBRUARI 2026 | 04:26 WIB

MEDIAN merilis hasil survei bulan Januari lalu. Salah satu pertanyaan yang diajukan ke responden adalah: jika pilpres digelar hari ini, anda pilih siapa? Hasilnya: 27,8 persen pilih Prabowo Subianto. 19,9 persen pilih Anies Baswedan.

Dari hasil survei ini menunjukkan, elektabilitas Prabowo turun, sementara Anies naik. 

Inilah yang disebut dengan hukum negative correlation atau korelasi negatif. Prinsip hukum yang kelahirannya diinisiasi oleh Sir Francis Galton (1822-1911), yang kemudian dikembangkan oleh Karl Pearson (1857-1936)


Dalam hukum negative correlation berlaku prinsip: jika A naik, maka B turun. Begitu juga sebaliknya. 

Prabowo dan Anies menempati posisi bersebelahan. Prabowo penguasa, Anies dipersepsi publik sebagai ikon oposisi. 

Di sinilah berlaku hukum negative correlation. Jika elektabilitas Prabowo turun, maka elektabilitas Anies naik. Jika ekspektasi rakyat kepada Prabowo turun, maka ekspektasi rakyat kepada Anies naik. Begitu juga berlaku sebaliknya.

Kenapa akhir-akhir ini ekspektasi rakyat kepada Prabowo turun? Salah satunya dipicu oleh penanganan banjir dan longsor yang terjadi beberapa bulan lalu di Sumatera. 

Tentu ada faktor-faktor kebijakan dan kinerja lainnya yang mempengaruhi turunnya ekspektasi rakyat kepada Prabowo.

Jika ke depan Prabowo bisa mengorkestrasi para teknokrat di bawahnya untuk menunjukkan performa kinerja yang lebih bagus dan meyakinkan serta memuaskan rakyat, maka ekspektasi rakyat kepada Prabowo akan naik kembali. Otomatis: elktabiltas Prabowo akan naik juga.

Misal, ke depan Prabowo berhasil membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7 persen. Rupiah menguat dan harga 1 dolar AS menjadi Rp10.000. Pelayanan publik seperti MBG dan rumah bersubsidi berhasil dan memuaskan bagi rakyat. Pungli di birokrasi lenyap dan korupsi jauh berkurang. Penegakan hukum melalui KPK, Kejaksaan dan Polri beroperasi efektif dalam pemberantasan korupsi. Ekspor dan impor ditertibkan, dan yang ilegal berhasil diberantas. Dominasi oligarki dalam menghegemoni komoditas dan pasar bisnis bisa ditekan. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia naik di atas  7.000 dolar AS per tahun. 

Jika ini semua bisa direalisasikan Prabowo, maka ekspektasi rakyat kepada Prabowo akan melonjak tinggi. 

Pilpres 2029, tak ada lawan buat Prabowo. Duduk manis tanpa kampanye, Prabowo akan menang. Tak perlu pusing mencari pasangan. Sandal jepit pun jadi. 

Tapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka rakyat akan mencari alternatif. Saat ini, alternatif yang muncul adalah Anies Baswedan. 

Nama Gibran Rakabuming Raka, Agus Harimurti Yuhoyono (AHY) dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga muncul dalam survei Median. Tapi masih jauh untuk bisa berkompetisi dengan Prabowo. 

Tapi, satu hal yang harus dipahami bahwa politik itu dinamis. Semua berkemungkinan untuk berubah.

Jadi, kembali lagi pada istilah korelasi negatif. Istilah ini dipakai untuk sebuah hubungan matematika politik. Bukan hubungan sosial-moral.

Relasi sosial Prabowo dan Anies tidak ada masalah. Pasca Pilpres 2024, masing-masing punya panggung dan kontribusinya sendiri. 

Prabowo urus negara dengan semua dinamika ekonomi dan uapayanya menghadapi kejahatan korupsi dan dominasi oligarki yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Sementara Anies sibuk keliling kampus nasional maupun internasional, memberikan pencerahan dan spirit pemberdayaan kepada para mahasiswa.

Belakangan, Anies didaulat oleh Partai Gerakan Rakyat untuk menjadi ikon dalam konsolidasi kebangsaan. Sampai disini, hubungan Prabowo dan Anies tidak ada masalah, dan tidak perlu dipermasalahkan.

Namun, politik punya dinamikanya sendiri. Dalam dinamika politik inilah hubungan Prabowo dan Anies bisa dibaca dan dikalkulasi lewat survei. Hasil survei menjadi instrumen untuk membaca bagaimana penilian rakyat kepada Prabowo dan Anies.

Adapun hasil negative correlation Prabowo-Anies ini sepenuhnya akan bergantung kepada Prabowo. 

Sebab, panggung kekuasaan saat ini ada di tangan Prabowo. Positif dan negatifnya persepsi rakyat, sepenuhnya bergantung bagaimana Prabowo memainkan panggung kekuasaan yang ada dalam kendalinya.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya