Berita

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan. (Foto: YouTube Forum Keadilan TV)

Publika

Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Tantangan ke Depan

MINGGU, 08 FEBRUARI 2026 | 01:10 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

PROF SITI ZUHRO telah menyebutkan nama saya ada dalam pertemuan lima tokoh nasional bersama Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat 30 Januari 2026, dalam podcast dia di Madilog kemarin. 

Bagi saya, itu adalah pertemuan kedua yang intensif dengan Prabowo, sebelumnya saya sendiri juga sudah diundang ke Hambalang pada 9 Januari 2026 bersama Jumhur Hidayat, selama 7 jam. 

Posisi saya yang selama ini dikenal sebagai aktivis sekaligus penulis tentu penting untuk menjelaskan apa yang saya ketahui dari pertemuan tersebut. Meskipun sesungguhnya dalam beberapa podcast, saya sudah ceritakan dalam gaya bahasa tidak langsung.


Nasionalisme Prabowo

Nasionalisme Prabowo berakar dari kesadaran historis bahwa Indonesia sudah ada sejak era, Majapahit, atau bahkan sebelumnya. 

Artinya eksistensi bangsa kita bukan sebuah fenomena baru, yang gampang terombang-ambing dalam pengaruh global, khususnya penetrasi budaya barat dan juga Asia Timur. Seperti, misalnya India dan China, Indonesia bisa mengarungi masa depannya dengan melanjutkan eksistensi di masa lalu.

Nasionalisme Prabowo Subianto juga menerima sintesis yang digagas Sukarno pada 1926, bahwa akulturasi telah berlangsung dari kebudayaan Islam dan sosialisme barat pada ke Indonesian yang ada saat ini. 

Namun, Indonesia tetap menjadi Indonesia sebagai inti eksistensinya. Indonesia tidak boleh merasa kebudayaan kulit putih maupun Arab lebih tinggi dari dirinya. 

Dan menurut Prabowo, hal itu merupakan tugas sejarah bangsa kita mengembalikan kebanggaan kebangsaan kita, secara berulang-ulang.

Dalam konteks ke Indonesian, Prabowo juga mendorong istilah-istilah pribumi dan Islam menjadi arus utama. Misalnya, Prabowo menghendaki agar ekonomi nasional dikendalikan secara seimbang oleh pribumi, Islam dan keturunan China. Tanpa keseimbangan ini menurut Prabowo nasionalisme kita akan semu dan rentan hancur.

Demokrasi

Dalam urusan demokrasi Prabowo ingin bangsa kita tidak mereferensikan diri pada ajaran barat. 

Menurutnya, Barat adalah rezim berwajah ganda. Mereka meneriakkan HAM, tapi membiarkan pembantaian massal di Palestina dll. Mereka berteriak demokrasi, tapi memelihara rezim-rezim boneka yang otoriter di mana2.

Ajaran bangsa Indonesia, dalam berdemokrasi, menurut Prabowo, adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Tidak semua rakyat harus mengklaim dirinya sebagai “suara Tuhan”. Sebab, rakyat yang kurang berpendidikan merupakan korban manipulasi

Di mata Prabowo demokrasi ala Indonesia adalah demokrasi cerdik cendekia dan para nasionalis. Untuk itu dibutuhkan musyawarah para pemimpin yang bertanggung jawab. 

Selama dua puluh tahun terakhir, Indonesia dikendalikan demokrasi barbar. Mereka yang mengatur negara berniat jahat untuk merampok sumber daya alam dan memperkaya diri sendiri, keluarga dan kerabatnya. Sehingga, Bangsa Indonesia mengalami krisis kepercayaan diri, kemiskinan massal dan di ambang kehancurannya.

Musyawarah, menurut Prabowo, adalah kunci penting dalam pengelolaan kepemimpinan nasional. Dan itu merupakan warisan sejarah. Sedangkan demokrasi yang ada saat ini adalah demokrasi ala barat yang berbahaya bagi kelangsungan bangsa kita.

Prabowonomics

Dalam menjalankan perekonomian, Prabowo memastikan pegangannya adalah Pasal 33 UUD 1945 asli. Menurutnya, Indonesia berhutang budi pada Mubiyarto, Dawam Raharjo, Sri Edi Swasono dan Adi Sasono yang berhasil mempertahankan pasal 33 tersebut dari intervensi asing di era amandemen UUD 1945.

Prabowo menerjemahkan Pasal 33 UUD 1945 sebagai sosialisme, yakni memberikan senyuman kemenangan bagi orang-orang miskin, petani miskin, buruh miskin, tukang becak, nelayan dan lainnya. 

Tanpa senyum dan sejahtera, di antara kekayaan sumber daya alam yang luar biasa besarnya dianugerahi Allah, menurut Prabowo Indonesia adalah produk gagal.

Tantangan terbesar saat ini di Indonesia adalah ketimpangan ekonomi. Hanya segelintir manusia memiliki atau mengendalikan 70 persen perekonomian nasional. 

Orang-orang itu, menurut Prabowo, adalah kekuatan anti konstitusional atau serakahnomics. Untuk mengatasi itu Prabowo perlu negara mengambil alih kendali perekonomian, baik secara damai maupun perang.

Prabowo meyakini seharusnya dia sudah menjadi Presiden 20 tahun lalu. Namun kaum serakahnomis menghancurkan harapan dia. Meskipun terlambat 20 tahun, Prabowo yakin dia akan mampu mengembalikan arah negara. Setidaknya arah yang baik untuk Indonesia ke depan.

Front Nasional

Untuk visinya ke depan, Prabowo membangun demarkasi antara bandit dan serakahnomics dengan kaum nasionalis patriotik alias kaum Merah Putih. 

Tahun kedua kepemimpinan beliau mulai terlihat Prabowo akan unjuk power melalui aliansi membangun front kaum nasionalis serta bersekutu dengan tentara rakyat. 

Beberapa waktu terakhir ini Prabowo terlihat melakukan itu dan sepertinya akan mengerahkan 1 juta massa rakyat unjuk kekuatan. Ini merupakan pertarungan Prabowo ke depan.

*Ketua Dewan Direktur Great Institute

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya