Berita

Ilustrasi beribadah saat Ramadan. (Foto: Unsplash)

Nusantara

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 10:15 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

 Setiap memasuki bulan Ramadan, istilah "ngabuburit" menjadi kosakata yang akrab di telinga masyarakat Indonesia.


Fenomena menunggu waktu berbuka puasa ini telah menjadi tradisi nasional yang melibatkan aktivitas sosial, kuliner, hingga rekreasi.


Namun, di balik popularitasnya, masih terdapat kesalahpahaman umum mengenai asal-usul istilah ini.


Penelusuran historis dan linguistik menunjukkan bahwa ngabuburit memiliki akar kuat dari budaya Sunda, bukan merupakan serapan dari bahasa Arab atau Melayu.


Tinjauan Etimologis: Kearifan Lokal Sunda


Secara kebahasaan, "ngabuburit" berasal dari morfologi bahasa Sunda. Istilah ini merupakan bentuk kata kerja yang terbentuk dari kata dasar burit, yang berarti 'sore hari' atau waktu menjelang matahari terbenam.


Secara kebahasaan, "ngabuburit" berasal dari morfologi bahasa Sunda. Istilah ini merupakan bentuk kata kerja yang terbentuk dari kata dasar burit, yang berarti 'sore hari' atau waktu menjelang matahari terbenam.


Kata dasar tersebut mendapatkan awalan nga-, yang dalam tata bahasa Sunda berfungsi menunjukkan sebuah tindakan atau aktivitas.


Oleh karena itu, secara harfiah, ngabuburit didefinisikan sebagai kegiatan 'menghabiskan waktu di sore hari'.


Secara spesifik, istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi jeda waktu antara selesainya kegiatan siang hari dan datangnya waktu berbuka puasa (maghrib).


Penggunaan istilah ini mencerminkan kesadaran masyarakat Sunda terdahulu dalam mengelola waktu puasa secara produktif.


Sejarah dan Fungsi Sosial Awal


Historisitas ngabuburit tidak dapat dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam dan tradisi lisan di Nusantara, khususnya di Jawa Barat.


Pada masa pra-modern, terutama di lingkungan pedesaan, waktu menunggu berbuka sering kali terasa berat bagi anak-anak dan remaja yang tengah belajar berpuasa.


Sebagai respons sosial, masyarakat menciptakan kegiatan-kegiatan komunal untuk mengalihkan rasa lapar dan haus. Bentuk awal ngabuburit sangat sederhana dan berorientasi pada nilai religius serta kebersamaan, antara lain:


Pendidikan Agama: Berkumpul di surau atau masjid untuk mengaji dan mendengarkan ceramah.


Permainan Rakyat: Anak-anak mengisi waktu dengan permainan tradisional di lapangan terbuka.


Tradisi Lisan: Para orang tua menceritakan kisah-kisah moral atau keagamaan kepada generasi muda.


Menurut para peneliti sosial, pada fase ini ngabuburit berfungsi sebagai mekanisme untuk mereduksi ketegangan fisik akibat puasa sekaligus memperkuat solidaritas sosial.


Transformasi di Era Modern dan Digital


Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami pergeseran fungsi yang signifikan. Jika dahulu ngabuburit bersifat internal dan lokal, kini aktivitas tersebut bertransformasi menjadi fenomena yang lebih eksternal dan komersial.


Aktivitas seperti berburu takjil (food hunting), berkendara keliling kota, hingga mengunjungi pusat perbelanjaan menjadi wajah baru dari tradisi ini.


Teknologi digital turut memainkan peran vital dalam evolusi ngabuburit. Kehadiran media sosial mengubah aktivitas ini dari sekadar pengisi waktu luang menjadi konten visual.


Motivasi masyarakat kini sering kali didorong oleh keinginan berbagi pengalaman atau mencari lokasi yang estetis untuk didokumentasikan.


Studi sosiokultural menilai pergeseran ini bukan sebagai hilangnya tradisi, melainkan bentuk adaptasi. Ngabuburit telah berevolusi menjadi ruang rekreasi (leisure) yang menjembatani tradisi religius dengan gaya hidup urban kontemporer.


Meskipun wujud kegiatannya telah berubah—dari surau ke pusat kuliner—esensi ngabuburit sebagai penanda kesabaran dan momen kebersamaan di bulan Ramadan tetap relevan hingga hari ini.


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya