Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Mengapa Moody's Beri Sinyal Waspada untuk Peringkat Kredit Indonesia?

JUMAT, 06 FEBRUARI 2026 | 11:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Moody's Ratings baru-baru ini mengubah outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat utamanya masih bertahan di level Baa2 atau layak investasi. Mengapa hal ini terjadi?

Lampu kuning ini bukan karena kondisi ekonomi Indonesia yang buruk, melainkan karena ketidakpastian kebijakan dan komunikasi pemerintah yang kurang efektif dalam setahun terakhir.

Dalam pengumumannya pada Kamis, 5 Februari 2026, Moody's menyatakan bahwa mereka memahami pemerintah tetap berusaha menjaga kepatuhan terhadap kerangka kebijakan moneter dan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mencapai status negara berpendapatan tinggi.


Namun, Moody’s menekankan: "Ketidakpastian kebijakan dalam setahun terakhir, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor."

Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar, sekaligus penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi.

Jika ketidakpastian ini terus berlanjut, reputasi dan kredibilitas kebijakan yang menjadi fondasi stabilitas ekonomi berisiko terganggu. Moody's mencatat dampaknya mulai terlihat pada gejolak pasar saham, nilai tukar, dan menurunnya kualitas regulasi di mata dunia.

Meski demikian, Moody’s menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang prudent telah menjaga stabilitas makroekonomi, sehingga peringkat Baa2 tetap dipertahankan.

"Terjaganya kredibilitas kebijakan, dan dengan demikian stabilitas makroekonomi, tetap menjadi asumsi dasar utama yang menopang peringkat Baa2," kata Moody's

Di sisi lain, peringkat Indonesia juga didukung oleh modal kuat negara, yaitu kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk usia produktif yang melimpah. Ekonomi RI diprediksi tetap tumbuh stabil sekitar 5 persen dengan pengelolaan keuangan yang disiplin.

Bank Indonesia telah memberikan tanggapan terkait hal ini. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa perubahan outlook ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Pemerintah perlu segera memperjelas arah kebijakan agar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat tercapai tanpa menimbulkan keraguan di kalangan investor.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya