Berita

Ketua Dewan Pembina Yayasan UTA’45 Jakarta, Rudyono Darsono. (Foto: dokumentasi UTA'45)

Nusantara

Rudyono Darsono:

Tragedi Anak di Ngada Bukti Kesenjangan Sosial Masih Lebar

KAMIS, 05 FEBRUARI 2026 | 17:04 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas 17 Agustus 1945 (UTA’45) Jakarta, Rudyono Darsono, menyebut meninggalnya bocah kelas IV SD berusia 10 tahun berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai alarm keras masih parahnya kesenjangan sosial dan kemiskinan ekstrem di Tanah Air.

Tragedi memilukan itu diduga dipicu ketidakmampuan orang tua korban menyediakan uang Rp10 ribu untuk membeli alat tulis sekolah.

“Persoalannya adalah kesenjangan sosial. Ini bukan hanya terjadi di Ngada, tetapi hampir merata di semua daerah. Masih ada kemiskinan ekstrem yang belum terjangkau,” ujar Rudyono saat ditemui di acara “Temu Kangen Saudara UTA’45 Jakarta & Akper HKJ”. 


Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pemerintah pusat, melainkan juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dalam membangun kepekaan sosial dan sistem perlindungan bagi warganya.

“Yang dibutuhkan adalah awareness atau sikap siaga dari pemerintah daerah setempat untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada masyarakatnya. Minimal mereka bisa hidup normal sebagai manusia Indonesia yang berpancasila,” tegasnya.

Rudyono menilai bahwa selama ini pendidikan sering dipahami sebatas soal gizi dan fasilitas, padahal yang lebih mendasar adalah pemenuhan kebutuhan pokok agar anak dapat bersekolah.

“Sekarang memang disiapkan program makanan bergizi untuk anak sekolah. Tapi jangan lupa, yang dibutuhkan bukan hanya gizi. Yang paling utama adalah bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk bisa sekolah. Baru tahap berikutnya mereka membutuhkan gizi yang lebih baik untuk menyerap ilmu,” jelasnya.

Menurutnya, tragedi ini juga harus dibaca sebagai dampak struktural dari praktik korupsi yang menggerogoti kesejahteraan rakyat.

“Yang memiskinkan bangsa ini adalah ketika kewenangan, kekuasaan, dan hukum dijual kepada para koruptor. Mereka bebas dari hukum dan bebas merampok sumber daya alam kita,” katanya.

Ia mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto dalam agenda pemberantasan korupsi dan perbaikan hukum, namun mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada jajaran pembantunya.

“Pak Presiden tidak bisa bekerja sendiri. Pembantu-pembantunya harus mampu mengikuti visi dan misinya. Kalau tidak, satu orang presiden dengan dua tangan dan dua kaki tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Rudyono.

Rudyono menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa anak-anak Indonesia tidak boleh terus menjadi korban ketimpangan sosial.

“Anak-anak Indonesia, generasi muda Indonesia, harus bisa memenuhi kebutuhan pokoknya untuk sekolah. Ini tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.

Untuk itu Yayasan UTA 45 Jakarta juga bergerak untuk bersama-sama mempersiapkan generasi muda yang disiplin, berintegritas, dan kompeten.

“Ini hampir seluruh sekolah menengah di Jakarta Utara kita kumpulkan untuk menyatukan visi-misi mempersiapkan generasi muda yang lebih baik,” tambahnya.

Terkait program beasiswa, Rudyono menegaskan bahwa bantuan pendidikan diberikan kepada siswa yang benar-benar memiliki kemauan untuk memperbaiki masa depan.

“Kita memberikan beasiswa untuk anak-anak yang ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Tapi harus punya disiplin, kemauan, dan visi. Kalau tidak, kita hanya akan mencetak pengangguran intelek. Itu yang tidak kita inginkan,” tegasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya