Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Istimewa)

Publika

Drama Temu Ormas

RABU, 04 FEBRUARI 2026 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU diplomasi itu masakan, maka “Board of Peace Gaza” adalah rendang yang dimasak di Davos. Dapurnya dingin, chef-nya global, bumbunya mahal, dan aromanya bikin curiga sejak awal.

Presiden Prabowo Subianto, sepulang dari Swiss -- negeri cokelat, jam mahal, dan netralitas bersejarah -- datang membawa satu resep baru: ikut Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump. Tanda tangan sudah ia bubuhkan dengan kepala tegak.

Keikutsertaan itu bukan gratis, tentu saja. Ada semacam urunan atau apalah istilahnya, sebesar Rp 16,7 triliun. Ini angka yang kalau dibayangkan bisa membuat bendahara masjid paling makmur pun refleks istighfar.


Namun di sinilah letak dramanya. Melalui penuturan Abraham Samad, sepulang dari pertemuan para tokoh dengan Prabowo, publik diberi tahu: keikutsertaan Indonesia di Dewan Perdamaian itu bukan harga mati.

Indonesia siap mundur jika Dewan Perdamaian tak bekerja bagi kemerdekaan nyata Palestina. Artinya, sejak awal pemerintah sadar ini bukan akad nikah sakinah, melainkan semacam perjanjian pranikah: kalau kau tak setia pada Palestina, kita cerai secara terhormat.

Masalahnya, publik telanjur melihat satu foto: tanda tangan di Davos. Dan foto, dalam politik, sering lebih berisik dari seribu klarifikasi. Maka Istana bergerak. Digelarlah pertemuan dengan para pimpinan ormas Islam, yang sebelumnya menyuarakan kegelisahan melalui MUI.

Ada yang bilang 16 ormas, ada yang bilang 40-an. Jumlahnya memang masih jauh dari total ormas di Indonesia yang kalau dikumpulkan bisa memenuhi satu kecamatan. Tapi ini tetap sinyal: pemerintah sadar ada kegelisahan serius di akar rumput, bukan sekadar ribut algoritma media sosial.

Dalam pertemuan itu, sikap Prabowo ditegaskan ulang. Indonesia siap keluar. Bahkan ada tambahan narasi penting: Indonesia tidak sendirian. Posisi ini diambil bersama negara-negara mayoritas Muslim lainnya.

Tambahan itu sebuah kalimat yang terdengar menenangkan. Tapi, bagi publik yang kritis, kalimat itu juga bisa berarti dua hal: solidaritas strategis, atau sekadar rame-rame masuk kolam yang sama-sama belum jelas airnya bening atau keruh.

Apalagi, di saat yang sama, realitas di lapangan tak menunggu klarifikasi. Israel dikabarkan masih menyerang Gaza. Puluhan orang tewas. Genjatan senjata terdengar seperti janji diet hari Senin: disebut, diucapkan, lalu dilanggar dengan setia.

Maka kata “perdamaian” di telinga umat terdengar makin ironis -- seperti payung yang dibagikan saat rumah sudah kebanjiran. Perdamaian di tangan Trump berisiko berubah menjadi ajang arisan global super jumbo, dengan iuran belasan triliun dan hasil yang tak pernah jelas.

Sikap MUI usai pertemuan menjadi titik balik menarik. Dari semula keberatan, lalu mendukung dengan syarat. Ini bukan zig-zag, melainkan refleksi dinamika khas lembaga moral yang terjebak di antara idealisme dan realisme.

MUI memilih menjadi mitra kritis. Silahkan Indonesia masuk, mendengar, tapi sambil mendukung sikap yang sudah diambil dengan hati-hati: mengunci pintu darurat. Kalau BoP melenceng, keluar.

Namun publik punya masalah lain. Bukan hanya soal isi kebijakan, melainkan simbol. Davos, bagi banyak umat, bukan sekadar kota di Swiss. Ia adalah metafora globalisme Barat, kapitalisme dingin, dan sejarah panjang ketidakadilan terhadap Palestina.

Maka sekeras apa pun niat baik dijelaskan, ia tetap harus berhadapan dengan memori kolektif yang sudah trauma. Dalam kondisi seperti ini, satu tanda tangan bisa terasa lebih nyaring daripada sepuluh pidato.

Di sinilah ujian sebenarnya. Bukan hanya bagi Presiden Prabowo, tapi bagi seluruh ekosistem kebijakan dan keumatan. Pemerintah dituntut membuktikan bahwa diplomasi dari dalam bukan sekadar duduk manis di meja, melainkan keberanian menggedor meja.

Ormas Islam ditantang untuk tidak sekadar memberi restu bersyarat, tapi juga mengawal dengan konsisten. Bukan hanya saat kamera menyala, bukan sekadar bangga dapat undangan duduk megah di Istana.

Pelajaran terbesarnya mungkin sederhana tapi pahit: dalam isu Palestina, legitimasi moral tidak bisa ditunda. Ia harus hadir bersamaan dengan strategi. Tanpa itu, kebijakan secerdas apa pun akan terdengar seperti pembelaan teknokratis di tengah jerit kemanusiaan.

Dan mungkin, di titik ini, kita semua perlu belajar satu hal: kadang mundur dari forum internasional tidak membuat kita kecil, justru bisa membuat kita utuh; kadang mencoba masuk ke kandang orang bisa memberi pelajaran.

Sebab ada harga yang lebih mahal dari selemari Rp 16,7 triliun — yaitu kepercayaan publik. Sekali retak, ia tak bisa ditambal dengan klarifikasi, seberapa pun panjang dan resminya. Sekali umat merasa dicurangi, kepercayaan tak menipis -- ia runtuh.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya