Berita

Laporan kelompok HAM menyebut korban tewas protes Iran tembus 6.000 jiwa (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Euro News)

Global

Korban Tewas Penindakan Protes di Iran Tembus 6.000 Orang

RABU, 28 JANUARI 2026 | 07:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Jumlah korban tewas akibat penindakan keras terhadap gelombang protes di Iran dilaporkan melonjak hingga lebih dari 6.000 orang dalam kurun satu bulan terakhir. 

Angka ini disampaikan oleh Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), kelompok pemantau yang selama ini dikenal cukup konsisten dalam mendokumentasikan kekerasan di Iran.

Menurut laporan HRANA, sedikitnya 6.126 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat pemerintah selama 30 hari terakhir. 


Dari total tersebut, 5.777 korban merupakan demonstran, sementara 49 lainnya adalah warga sipil non-demonstran. Selain itu, sekitar 214 anggota pasukan pemerintah juga dilaporkan meninggal dunia. HRANA juga mencatat bahwa 86 anak termasuk di antara korban jiwa.

Meski demikian, jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih besar. HRANA menyebut masih melakukan penyelidikan terhadap lebih dari 17.000 potensi kematian yang hingga kini belum dapat diverifikasi sepenuhnya. Keterbatasan akses informasi di dalam negeri menjadi kendala utama dalam proses verifikasi tersebut.

Pemerintah Iran disebut secara luas membatasi bahkan memadamkan akses internet sejak kerusuhan pecah. Langkah ini dinilai sengaja dilakukan untuk menghambat arus informasi dan menyulitkan upaya pemantauan independen.

“Gangguan dan pemadaman internet yang meluas tetap menjadi salah satu alat utama pemerintah untuk membatasi aliran informasi dan mengurangi kemampuan para pengunjuk rasa untuk berorganisasi,” kata HRANA dalam pernyataannya, dikutip redaksi di Jakarta dari 9News, Rabu 28 Januari 2026. 

HRANA menambahkan, pembatasan internet tersebut berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. 

“Situasi ini secara efektif telah menyebabkan gangguan besar terhadap akses warga negara terhadap informasi, komunikasi dengan keluarga, layanan daring, dan media independen,” lanjut pernyataan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran membantah angka korban yang dirilis kelompok hak asasi manusia. Sumber resmi menyebut jumlah korban tewas hanya sedikit di atas 3.000 orang. 

Dari angka tersebut, 2.427 korban diklaim merupakan warga sipil dan aparat keamanan, sementara sisanya dikategorikan sebagai “teroris”. Dalam sejumlah peristiwa sebelumnya, rezim teokrasi Iran kerap dituding meremehkan atau tidak melaporkan secara transparan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan.

Data HRANA juga menunjukkan luasnya dampak penindakan aparat. Hampir 42.000 orang dilaporkan ditangkap, sementara lebih dari 11.000 lainnya mengalami luka berat. Skala kekerasan ini disebut melampaui berbagai gelombang protes di Iran dalam beberapa dekade terakhir, bahkan mengingatkan pada situasi menjelang Revolusi Islam Iran pada 1979.

Sementara itu, media pemerintah Iran terus menuding keterlibatan kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat, sebagai dalang di balik gelombang protes. Namun para pengamat menilai akar persoalan justru berasal dari kondisi ekonomi Iran yang memburuk, tekanan sanksi internasional, serta ketidakpuasan publik yang telah lama terakumulasi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya