Berita

Bupati Pati, Sudewo resmi pakai rompi oranye tahanan KPK. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Publika

Sudewo Merasa Dikorbankan, Rakyat Pati Merayakan

KAMIS, 22 JANUARI 2026 | 12:23 WIB

KITA lanjutkan cerita Sudewo, Bupati Pati. Ternyata, beliau tidak mengaku salah. Justru merasa dikorbankan. 

Ada pepatah tua yang selalu kalah populer dari pepatah baru, pencuri kalau ngaku, penuh penjara. Masalahnya, di negeri ini pencuri justru rajin konferensi pers, lengkap dengan wajah bening seperti bayi habis mandi. 

Begitulah Sudewo yang tertangkap KPK tapi hatinya tetap bersih, suci, dan tanpa noda. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri. 


Sudewo berdiri di Gedung Merah Putih KPK bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai korban sejarah, korban politik, korban semesta, korban nasib yang salah alamat.

Dengan muka tanpa dosa, Sudewo menyatakan dirinya dikorbankan. Ia tidak tahu apa-apa, tidak membahas apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak mencium apa-apa, kecuali mungkin aroma ketidakadilan yang entah datang dari mana. 

Soal OTT di Jaken, itu katanya hanya kebetulan geografis. Kebetulan para kepala desa di sana tidak mendukungnya saat Pilkada. 

Jadi jelas, menurut logika kosmik ini, OTT bukan soal dugaan pemerasan, melainkan dendam elektoral yang menyamar jadi penegakan hukum.

Ia bersumpah, demi langit Pati yang biru dan sawah yang hijau, tidak pernah ada pembahasan jabatan, baik formal, informal, setengah formal, maupun sambil ngopi. Tidak ke kepala desa, tidak ke camat, tidak ke OPD. 

Semua bersih. Semua steril. Semua seperti ruang operasi. Kecuali satu hal kecil yang luput, ia memang sempat memanggil Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk membahas draf Perbup soal seleksi perangkat desa. 

Tapi itu bukan untuk bermain, justru agar tak ada yang bermain. Ini seperti mengatakan pisau dibeli bukan untuk memotong, tapi untuk memastikan tidak ada yang terpotong.

Maka lahirlah ide Computer Assisted Test (CAT), pengawasan ormas, LSM, media, dan mungkin malaikat pencatat amal. Sebuah sistem suci nan transparan, di tengah fakta KPK justru menangkap tangan, bukan menangkap angin. 

Empat orang ditetapkan tersangka. Nama-namanya nyata, jabatannya jelas, peristiwanya konkret. Bahkan satu bonus perkara lain ikut nongol, dugaan suap proyek jalur kereta api. Lengkap sudah paket penderitaan yang katanya tak pernah ia pesan.

Harta Sudewo pun ikut bicara, meski pemiliknya memilih diam. Rp31,5 miliar, 31 aset tanah dan bangunan, mobil-mobil yang lebih banyak dari kalender cuti ASN, Alphard, Land Cruiser, BMW X5, sampai motor tua yang seolah disimpan agar tetap terlihat merakyat. 

Semua legal, semua dilaporkan, semua sah. Tidak ada utang, seolah hidupnya lurus tanpa belokan, kecuali belokan menuju Gedung KPK.

Di sinilah bagian paling indah dari kisah ini. Jika orang dicintai, kepergiannya ditangisi. Jika orang dirindukan, kejatuhannya disesali. 

Tapi di Pati, langit justru meledak oleh kembang api. Bukan tahun baru, bukan kemenangan Persipa, bukan pesta tujuhbelasan. Ini pesta “akhirnya”. 

Alun-alun Simpang Lima bersinar, flare menyala, senyum merekah. Rakyat Pati senang luar biasa, seperti baru saja lolos dari musim panjang yang melelahkan.

Ini bukan pesta kejahatan, kata mereka, ini syukuran rakyat. Dulu mereka gagal memakzulkan. Kini KPK datang seperti episode penutup sinetron yang tertunda. 

Di tengah banjir, di tengah susah, di tengah rasa kecewa, ada lega yang tak bisa disembunyikan. Ironis, memang. Tapi beginilah demokrasi lokal kita bekerja, ketika hukum turun tangan, rakyat naik pitam lalu naik panggung merayakan.

Malam itu, Pati belajar satu hal penting. Kadang keadilan tidak datang dengan pidato, melainkan dengan borgol. 

Ketika itu terjadi, rakyat yang lama menahan napas akhirnya boleh bersorak. Bukan karena bencinya besar, tapi karena harapannya masih hidup.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Bahaya Framing, Publik Jangan Mudah Diadu Domba di Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:36

Memahami Trust: Energi yang Hilang

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:22

Kapolri Imbau Masyarakat Manfaatkan WFA Jelang Puncak Arus Balik Mudik

Selasa, 24 Maret 2026 | 19:19

Penjualan Tiket KA Jarak Jauh Tembus 101 Persen Saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:45

Polri: Arus Balik Mudik ke Jakarta Meningkat hingga 73 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:29

Badko HMI Jabar Diteror Usai Bahas Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:51

Hari ke-12 Operasi Ketupat: Jumlah Kecelakaan 198, Meninggal 18

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:01

Mengapa Harga iPhone 15 Tiba-Tiba Melambung Naik Jutaan Rupiah?

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:46

Kembali ke KPK, Yaqut: Alhamdulillah Bisa Sungkem

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:28

Apa Itu Post Holiday Syndrome Usai Lebaran 2026? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Selasa, 24 Maret 2026 | 16:18

Selengkapnya