Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Bisnis

Hidupkan Koperasi Harus Lewat Pengembalian Konstitusi 1945 Asli

SELASA, 20 JANUARI 2026 | 06:25 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia bisa terwujud apabila konstitusi UUD 1945 dikembalikan bentuk asli yang disahkan pada 18 Agustus 1945.

Pasalnya, amandemen UUD 1945 yang dilakukan pada periode 1999-2002 telah menyebabkan iklim kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi liberal, sehingga gotong royong dan kekeluargaan sebagai karakteristik koperasi tidak bisa berkembang.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Koperasi Forum Silaturahmi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (Fospem NKRI), Agustian Jamaludin dalam pesan elektroniknya kepada RMOL di Jakarta, Senin malam, 19 Januari 2026.  


“Konstitusi kita wajib dikembalikan ke UUD 45 yang asli, sehingga tidak terjadi liberalisme seperti yang saat ini terjadi, yang merugikan kita rakyat semua, menjadikan rakyat Indonesia miskin dan kelaparan,” kata Agustian. 

“Demokrasi Pancasila dan Ekonomi Pancasila akan hadir kembali bila konstitusi UUD 45 kembali ke yang asli,” tambahnya menegaskan.

Sambung Agustian, jika sudah kembali ke konstitusi asli maka seluruh rakyat Indonesia diarahkan untuk menjadi anggota koperasi guna mewujudkan kesejahteraannya.  

“Apapun usaha kita, baik pribadi maupun koperasi akan berjalan dengan baik. Namun bila kita kekeh dengan pendirian koperasi sektoral (seperti saat ini di iklim liberal) yang keanggotaan terbatas, apalagi kegiatannya membuat rakyat punya utang, itu hanya membunuh ekonomi kita sendiri, sama saja dengan kita saat sebelum merdeka, kita dijajah oleh Belanda dan Jepang,” jelasnya.
 
Ia pun menghendaki agar rakyat hanya memiliki satu koperasi yang terinduk dan terintegrasi, bukan sektoral. Termasuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) turut dikritisinya.  

“Saat ini kita dikotak-kotakan dalam koperasi-koperasi sektoral yang berada di perkantoran, wilayah tertentu, termasuk Kopdes Merah Putih. Semua akan terjadi rebutan lahan, satu sama lain bersaing, begitupun sistem partai, ormas dan lain-lain. Itu artinya kita terkotak-kotak, modal tidak kuat, akhirnya yang berkuasa adalah oligarki, asing yang memiliki modal yang kuat, kita rakyat hanya dijadikan konsumen-konsumen yang tidak memiliki keuntungan, apakah mau terus seperti itu,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Wamenko Dradjad: Penilaian MSCI Tidak Selalu Benar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:23

Trump Bicara Soal Denuklirisasi dengan Rusia dan Tiongkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:43

PGN Perkuat Efisiensi dan Daya Saing Bisnis Melalui Inisiatif Dekarbonisasi Berkelanjutan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:22

Kawasan Industri Diajak Cak Imin Bantu Korban Karhutla

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:11

OJK Denda DSSA, BREN, CUAN Rp2,1 Triliun, Sanksi 835 Pihak Tembus Rp390 Miliar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:03

DIM RUU Migas Hampir Rampung 90 Persen

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:00

Airlangga Heran MSCI Mendadak Ancam Cabut Status Emerging Market RI Usai Bertemu Menkeu-BI di Bangkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:52

Pimpin Nasdem Garut, Lola Nelria: Partai Harus Hadir dalam Kehidupan Masyarakat

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:46

Houthi Serang Istana Presiden Yaman, Lima Meninggal Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:41

Kopdes Butuh Talenta Utuh agar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:34

Selengkapnya